Ngopi Santai

Ponsel dan Makan Lahap, Apa Hubungannya?

Hindari membawa smartphone di meja makan jika anda ingin happy eating ! Pernyataan di atas mungkin terdengar berlebihan. Tapi, simaklah hasil riset

Ponsel dan Makan Lahap, Apa Hubungannya?
Tribun Bali/Ida Ayu Made Sadnyari
Hindari membawa smartphone di meja makan jika anda ingin happy eating ! 

Ponsel dan Makan Lahap, Apa Hubungannya?

Hindari membawa smartphone di meja makan jika anda ingin happy eating !

Pernyataan di atas mungkin terdengar berlebihan. Tapi, simaklah hasil riset seorang peneliti dari University of Virginia (AS), Kostadin Kushlev.
Dalam penelitiannya tentang media multitasking, Kushlev menemukan bahwa hadirnya ponsel pintar di meja makan membuat orang-orang yang mengitari meja itu merosot selera makannya, dan menjadi kurang menikmati hidangannya.
“Bahkan meski ponsel itu cuma ditaruh dan tak seorang pun sedang menggunakannya, kehadiran benda itu membuat orang-orang di sekeliling meja kurang menikmati hidangannya,” demikian temuan Kuhslev sebagaimana dilansir oleh time.com beberapa waktu lalu.

Tentu saja harus diakui bahwa penemuan smartphone (ponsel pintar) adalah sesuatu yang luar biasa di abad modern ini. Kekuatan smartphone sedang mengubah dunia. Betapa tidak, seabreg pengetahuan manusia yang diperoleh selama sekian tahun, terangkum jadi satu di smartphone dalam saku anda.

Namun, kini banyak orang mulai mengkritisi “daya bius” piranti yang seakan tak henti-henti merampas perhatian atau fokus kita itu, sehingga ahli psikologi/psikiatri dewasa ini memasukkan ponsel sebagai faktor risiko bagi kesehatan mental. Memicu stres dan depresi, multitasking & overthinking.

Menurut Jean Twenge, profesor psikologi dari San Diego State University, semua data (hasil penelitian) belakangan ini menunjukkan bahwa membatasi penggunaan piranti teknologi seperti smartphone akan menyehatkan mental dan menyumbang perasaan bahagia. Penggunaan yang tidak bijak piranti teknologi (smartphone) membuat kita kehilangan kesempatan untuk merasakan makna kebahagiaan, karena melewatkan peluang untuk berada dalam “HERE and NOW moments” atau momen “di sini dan saat ini”.

Nah, melihat deretan hasil penelitian yang menegaskan kemudaratan penggunaan smartphone, maka kini sejumlah ahli sepakat tentang perlu hadirnya ponsel-tak seberapa-pintar alias not-so-smart phone.
Ini memang pendekatan yang lebih mengontrol piranti daripada mengontrol penggunanya.

“Bukankah yang lebih menentukan adalah orang di belakang alatnya, man behind the gun atau penggunanya, bukan piratinya? Piranti sih netral-netral saja,” demikian kata pengritik ide itu.

Namun, bagi para penggagas “ponsel kurang cerdas”, barangkali terlalu lama jika bergantung pada munculnya kesadaran pengguna untuk mengerem dampak negatif smartphone.
“Memiliki sebuah perangkat komunikasi yang lebih sederhana bisa jadi merupakan salah-satu cara untuk membatasi atau memediasi penggunaan perangkat pintar,” kata Dr. Gary Small, profesor ilmu psikiatri dan perilaku dari University of California, Los Angeles.

Jadi, sekali lagi, muncullah ide tentang “ponsel bodoh” (dumb-phone), sebagai respon atas dampak negatif ponsel pintar. Kira-kira, yang dibayangkan tentang “ponsel bodoh” (dumb-phone) itu adalah fitur-fiturnya benar-benar dasar (basic), namun tetap dibuat seindah mungkin sehingga mampu memikat pasar/konsumen (marketable).

Ia hanya bisa dipakai untuk panggilan, SMS dan sejumlah kecil fungsi dasar lainnya seperti alarm/weker dan arah berkendara. Intinya, fitur-fitur yang ada di ponsel pintar yang kita kenal, jadi dilucuti. Bahkan, kemampuan simpan data nomor telepon juga dibatasi. Sebuah ponsel dengan konsep minimalis.

Menurut informasi, pada tahun 2019 ini “ponsel bodoh” (dumb-phone) tersebut meluncur ke pasar. Kita tunggu saja apakah kehadirannya mampu mendisrupsi dan mengalihkan perhatian pengguna smartphone.

Apakah saya akan beli “ponsel bodoh” (dumb-phone) itu?
Jawabannya: sepertinya saya pilih beli ponsel yang jadul saja, kan masih banyak tersedia di pasar. Toh, fitur-fiturnya juga sama bodohnya hehehe...

Bagaimana pendapat(an) Anda?

Penulis: Sunarko
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved