Pelanggar Perdes Kena Sanksi Sosial, Cara Desa Munduk Temu Jaga Lingkungan

Desa Munduk Temu, Tabanan membuat tiga peraturan penting untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mengurangi sampah

Pelanggar Perdes Kena Sanksi Sosial, Cara Desa Munduk Temu Jaga Lingkungan
Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
Salah satu tempat sampah khusus plastik yang disediakan Desa Munduk Temu, Kecamatan Pupuan, Tabanan. Pelanggar Perdes Kena Sanksi Sosial, Cara Desa Munduk Temu Jaga Lingkungan 

Pelanggar Perdes Kena Sanksi Sosial, Cara Desa Munduk Temu Jaga Lingkungan

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Desa Munduk Temu, Tabanan membuat tiga peraturan penting untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mengurangi sampah.

Para pelanggar aturan ini akan di-share di Facebook Desa Munduk Temu.

Tiga larangan itu yang termuat dalam Peraturan Desa (Perdes) yang sejalan dengan Pararem Desa Adat tentang pelestarian alam dan lingkungan.

Diantaranya dilarang berburu burung dengan cara apapun seperti menjaring, memikat dan lain sebagainya.

Kemudian, diatur juga tentang pelestarian biota sungai. Artinya tak boleh ada yang meracuni biota laut, dan terakhir adalah masalah pembuangan sampah. Juga larangan membuang sampah plastik sembarangan.

Baca: Satpam Nyaru Anggota TNI Tipu 16 Perempuan, Satu Korban yang Ditinggal di Kamar Hotel Melapor

Baca: Argentina Jumpa Tuan Rumah Brasil di Semifinal Copa America, Bagaimana Peluangnya?

"Jika memang terbukti melanggar, pelaku akan mendapatkan sanksi denda dan sanksi sosial. Jika dari desa adat, akan ada denda uang yang bervariasi di masing-masing desa pekraman sesuai kesepakatan. Dan untuk di Desa Dinas, foto pelanggar akan dipajang di akun media sosial Facebook Desa Munduk Temu," Perbekel Munduk Temu Purnabakti, I Nyoman Wintara, Jumat (28/6/2019). 

"Langkah tersebut merupakan salah satu cara kami selain mendidik generasi muda dan anak-anak melalui gerakan Lisa (Lihat Sampah Langsung Ambil)," imbuhnya.

Desa Munduk Temu sudah menerapkan bebas sampah plastik (sampah non organik) di lingkungannya sejak 2017 lalu.

Baca: Kisruh PPDB Zona Kawasan di Denpasar, Pendaftaran Hari Pertama Diwarnai Protes Orangtua Siswa

Baca: Kabar Baik bagi TNI, Presiden Jokowi Sudah Teken Perpres Jabatan Fungsional Tentara Indonesia

Caranya dengan menempatkan 12 titik atau 12 tempat penampungan sampah plastik berbahan besi di Desa yang memiliki tiga desa adat ini.

Dilain hal, sampah organik diolah warga setempat menjadi pupuk yang digunakan untuk lahan kebun mereka sendiri. 

Bagaimana dengan sampah plastik yang telah dikumpulkan?

Untuk sampah plastik, kata Wintara, dulu memang ada rekanan yang mengambil, namun saat ini agak sedikit tersendat jadi desa yang memfasilitasi membawa ke TPA.

"Jika untuk pengolahan (sampah plastik, red) belum, tapi sekarang ada satu PKK di desa mulai merajut sampah plastik jadi kerajinan seperti tas. Sehingga ini yang tahun depan akan kami kembangkan dan tularkan untuk warga lainnya," tandasnya.(*)

Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved