Citizen Journalism

Jalak Bali : Si Cantik Putih Pulau Dewata Yang Terancam Punah

Burung Jalak Bali (Leucopsar Rothschildi) ini adalah jenis burung pengincau berukuran sekitar 25 cm yang lebih dikenal dengan mana Jalak Putih atau

Jalak Bali : Si Cantik Putih Pulau Dewata Yang Terancam Punah
Tribun Bali/ Lugas Wicaksono
Sejumlah burung jalak Bali hinggap di dahan pohon UPK Pembinaan Populasi Jalak Bali Balai TNBB, Buleleng, Jumat (11/11/2016). Jalak Bali atau Curik terancam punah dicari pemburu karena harga jualnya yang mahal mencapai Rp 13 juta per ekor. (Tribun Bali/ Lugas Wicaksono) 

Penulis: Angelita Abri Berliani 

Mahasiswi Program Studi Biologi, Fakultas Bioteknologi, Universitas Duta Wacana, Yogyakarta

TRIBUN-BALI.COM - Jalak Bali adalah salah satu dari sekian banyak satwa endemik yang dimiliki Indonesia.

Burung Jalak Bali (Leucopsar Rothschildi) ini adalah jenis burung pengincau berukuran sekitar 25 cm yang lebih dikenal dengan mana Jalak Putih atau Curik oleh masyarakat Bali.

Burung dengan warna putih yang mendominasi di sekujur tubuhnya ini dipadu warna biru terang di sekitar matanya dan ditambah dengan warna hitam di ujung sayap dan ekor, membuat burung ini terlihat semakin manis dan memanjakan mata dan semakin  istimewa karena ia hanya ada di Pulau Dewata, Bali.

Sayangnya, kecantikannya ini sempat membuatnya jadi sasaran perburuan liar guna memenuhi permintaan pasar dunia untuk dijadikan burung peliharaan karena harganya yang fantastis, mencapai puluhan juga untuk satu ekornya.

Akibatnya, Jalak Bali terancam punah.

Kondisi ini diperparah dengan adanya perubahan habitat alaminya di sepanjang barat laut pantai Bali yang menyebabkan populasi Jalak Bali menurun.

Berdasarkan data BirdLife International, jumlah Jalak Bali di alam tak lebih dari 50 individu.

Kondisinya yang kian memprihatinkan ini membuat IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) menetapkan statusnya Kritis (Critically Endangered/CR).

Sementara CITES (Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora) atau konvensi perdagangan internasional untuk satwa liar telah memasukkan jalak bali dalam Appendiks I yang artinya terlarang untuk diperdagangkan.

Langkanya Jalak bali sebagai satwa endemik sekaligus identitas Pulau Bali ini telah menjadi keprihatinan pemerintah daerah.

Sehingga pemerintah mengambil tindakan dengan memberi status satwa dilindungi pada Jalak Bali pada tahun 1970, melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian no. 421/KPTS/UM/8/1970, selain itu Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga melakukan segala usaha yang melibatkan semua pihak untuk mencegah punahnya jalak bali di alam, salah satunya adalah upaya untuk menghilangkan perburuan, dan menyediakan tempat yang dapat digunakan untuk pelepasliarannya di alam bebas.

Strategi Konservasi

Kawasan hutan di Provinsi Bali mencapai 130.686 hektar, sekitar 19.000 hektar merupakan wilayah Taman Nasional Bali Barat (TNBB) sebagai habitat asli jalak Bali.

Meski berada di habitat aslinya, namun populasi jalak bali terus mengalami penurunan akibat penangkapan ilegal.

Pada 2008, populasinya di TNBB mencapai 72 individu, namun di 2015 ini hanya tersisa 49 individu.

Kecilnya populasi burung diketahui salah satu penyebabnya adalah cara reproduksinya yang hanya menghasilkan 1-3 telur untuk setiap perkawinan.

Dalam upaya pelestarian Jalak Bali, TNBB menjadi fokus utama untuk melestarikan populasi Leucopsar rothschildi ini.

Terutama, melalui pelepasliaran jalak bali yang berhasil dikembangbiakkan di penangkaran guna mendorong pertambahan populasi burung jalak Bali yang hidup secara alami.

Pelepasliaran mulai dilakukan pada 2002 dan yang terakhir 2014.

Sejauh ini, kurang lebih 200 individu yang telah dilepaskan.

Selain program pelepasliaran, pemerintah juga telah membentuk Pusat Penangkaran dan Pelepasliaran Jalak bali Yayasan Begawan yang secara resmi telah dibuka pada Rabu, 23 Mei 2018 untuk mencegah punahnya populasi burung Jalak bali yang populasinya saat ini kian terancam.

Yayasan Begawan telah melepasliarkan 60 lima ekor Jalak bali di antara tahun 2006 dan 2007 di Pulau Nusa Penida dan 16 ekor di Sibang dari tahun 2010 sampai 2012, namun banyak burung hilang karena ditangkap oleh pemburu liar.

Pelepasliaran yang dilakukan oleh beberapa pihak bukanlah akhir, melainkan sebagai awal dari kegiatan.

Pelepasliaran dalam jumlah banyak di alam tidak menjadi jaminan selama monitoring tidak dilakukan secara komprehensif.

Habitat jalak bali yang sekarang juga perlu direstorasi, sehingga peluang peningkatan populasi jalak bali di alam liar akan besar.

Selain itu pemantauan jalak bali yang dilepasliarkan di alam, direkomendasikan dengan melakukan pemasangan microchip atau transponder, guna memudahkan monitoring pergerakannya.

Juga perlu dilakukan untuk mengetahui, apakah burung tersebut masih berada di TNBB, pindah habitat, atau malah dicuri.

Program lainnya yang dilakukan untuk melestarikan populasi Jalak bali adalah program konservasi berbasis masyarakat sejak bulan Oktober 2017, yang melibatkan masyarakat setempat untuk berpartisipasi di kegiatan konservasi burung Jalak bali dengan memastikan adanya dukungan terhadap pelestarian Jalak Bali, yaitu melalui pengawasan kolektif dan tindakan tidak menangkap dan/atau menjual burung liar ataupun yang telah dilepasliarkan, bisa terlaksanakan dengan baik.

Selain itu, mengedukasi masyarakat bahwa ada keuntungan terkait penangkaran Jalak bali ini, melalui ecotourism dan pariwisata.

Program konservasi berbasis masyarakat dirancang untuk memberikan peluang bisnis kepada masyarakat setempat, sehingga masyarakat menyadari bahwa dengan adanya berbagai program yang mengenalkan spesies jalak Bali, maka dapat menjadi suatu langkah awal untuk kemudian menyebarkan semangat konservasi ke lingkungan masyarakat yang lebih luas dan bersifat berkelanjutan. (*)

Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved