BPR Harus Hati-hati Salurkan Kredit, OJK Catat Pertumbuhan Kredit di Bali Lebih Rendah

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 8 Bali-Nusa Tenggara mencatat pertumbuhan kredit di Bali lebih rendah bila dibandingkan wilayah Nusa Tenggara

BPR Harus Hati-hati Salurkan Kredit, OJK Catat Pertumbuhan Kredit di Bali Lebih Rendah
Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Rochman Pamungkas, Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Regional 8 Bali-Nusa Tenggara. BPR Harus Hati-hati Salurkan Kredit, OJK Catat Pertumbuhan Kredit di Bali Lebih Rendah 

BPR Harus Hati-hati Salurkan Kredit, OJK Catat Pertumbuhan Kredit di Bali Lebih Rendah

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 8 Bali-Nusa Tenggara mencatat pertumbuhan kredit di Bali lebih rendah bila dibandingkan wilayah Nusa Tenggara baik Nusa Tenggara Barat (NTB) ataupun Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hingga April 2019, OJK mencatat pertumbuhan kredit di Bali hanya 4,91 persen (yoy) dan 1,86 persen (ytd) dengan nominal Rp 87,42 triliun.

Angka tersebut, jauh dibawah pertumbuhan kredit wilayah NTB dengan persentase 7,95 persen (yoy) dan 3,47 persen (ytd) nominalnya Rp 41,16 triliun.

Apalagi bila dibandingkan dengan NTT sebesar 12,67 persen (yoy), dan 2,67 persen (ytd) dengan nominal Rp 30,06 triliun.

“Kredit turun karena sebagian besar sektor bisnis menghadapi perlambatan. Hal ini akhirnya berdampak pada perlambatan pertumbuhan kredit,” kata Direktur Utama PT BPR Sukawati Pancakanti, Made Arya Amitaba, kepada Tribun Bali, Selasa (2/7/2019).

Apalagi saat ini kredit bermasalah terus meningkat, sehingga industri perbankan khususnya BPR harus berhati-hati dalam menyalurkan kredit.

“NPL tinggi seperti force majeur bagi kami, perlambatan ekonomi tidak kami bayangkan akan seberat ini,” jelasnya.

Baca: Surat Domisili Dicek Ulang, Kadisdik Sebut Lanjutkan Proses PPDB Sesuai Permendikbud

Baca: Pelindo III Suntik Modal Rp 1,06 Miliar ke 13 UKM di Bali

Bahkan ia mengatakan, sektor properti disebut sebagai biang kerok bukan merupakan penyebab utama Non Performing Loan (NPL) tinggi.

“Masalahnya karena semua sektor terjadi perlambatan, bukan hanya sektor properti saja,” tegasnya.

Halaman
1234
Penulis: AA Seri Kusniarti
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved