Tak Setuju PPDB Sistem Zonasi, Begini Kata Siswa SMPN 1 Denpasar

Nilai UN perlu dijadikan sebagai salah satu syarat dalam PPDB. Tujuannya untuk meningkatkan daya saing.

Tak Setuju PPDB Sistem Zonasi, Begini Kata Siswa SMPN 1 Denpasar
Tribun Bali/Wema Satya Dinata
Siswa SMPN 1 Denpasar, Darmadi saat menyampaikan pendapatnya terkait sistem PPDB di Kantor DPRD Bali, di kawasan Renon, Denpasar, Bali, Kamis (4/7/2019). 

Tak Setuju PPDB Sistem Zonasi, Begini Kata Siswa SMPN 1 Denpasar

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Seorang siswa SMP Negeri 1 Denpasar, Darmadi mendapat kesempatan berbicara di hadapan Kepala Dinas Pendidikan dan anggota DPRD Bali terkait sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jalur zonasi.

Darmadi menyatakan tidak setuju dengan penerapan sistem zonasi tersebut.

Menurutnya, nilai UN perlu dijadikan sebagai salah satu syarat dalam PPDB.

Tujuannya untuk meningkatkan daya saing agar siswa memahami bahwa dunia ini penuh dengan persaingan.

“Untuk menjadi yang terbaik kita perlu bersaing,” kata Darmadi di Kantor DPRD Bali, di kawasan Renon, Denpasar, Bali, Kamis (4/7/2019).

Selain NEM, prestasi siswa juga harus dilihat sebagai tolak ukur.

Ia mencontohkan temannya ada yang mendapat juara III Taekwondo tingkat nasional, tetapi pada akhirnya juga tidak mendapat SMA negeri karena dikalahkan peserta lainnya.

Menurutnya, atas raihan prestasi tersebut semestinya bisa diberikan reward karena dia sudah berjuang untuk Bali.

“Berdasarkan data jumlah lulusan SMP di Denpasar ada sekitar 6.000 sampai 7.000 orang siswa. Sementara SMA Negeri di Denpasar jumlah daya tampungnya sekitar 2.400. Sisanya ke mana siswa itu bersekolah?” tanyanya.

Ia meyakini dan memaklumi bahwa di Indonesia ini masih belum terlalu gampang membuat sekolah negeri.

“Enggak. Saya mengerti itu tidak bisa di Indonesia. Maka dari itu sistem NEM dan prestasi harus dijunjung tinggi,” imbuhnya

Selanjutnya, Darmadi juga mengusulkan jika sistem zonasi memang mengacu pada keadilan, maka sebaiknya penerimaannya menggunakan sistem undian saja.

Nantinya jika orang itu yang mendapat nomor undian dan beruntung, maka dialah yang berhak masuk ke SMA negeri.

“Walaupun banyak yang tidak setuju, tapi setidaknya itu bisa memberi rasa adil,” ujarnya. (*)

Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Kander Turnip
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved