Abrasi Ancam Habitat Penyu di Pesisir Tegal Besar

Warga dan BKSDA Bali melepas liarkan 80 tukik di Pantai Tegal Besar untuk melestarikan spesies penyu yang bertelur di pesisir

Abrasi Ancam Habitat Penyu di Pesisir Tegal Besar
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Warga dan BKSDA Bali melepasliarkan 80 tukik di Pantai Tegal Besar, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Jumat (5/7/2019). 

Abrasi Ancam Habitat Penyu di Pesisir Tegal Besar

TRIBUN-BALI.COM, KLUNGKUNG - Berita terkini Klungkung, Bali, warga dan BKSDA Bali melepasliarkan 80 tukik di Pantai Tegal Besar, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Bali, Jumat (5/7/2019).

Hal ini untuk melestarikan spesies penyu yang bertelur di pesisir Pantai Tegal Besar.

Dengan pelepasliaran ini, diharapkan warga dapat ikut menjaga habitat penyu di pesisir negari.

Kepala Seksi II BKSDA Bali Sulistyo menjelaskan, penyu yang dilepas jenis Lekang (Lepidochelys olivacea).

Penyu jenis ini memang kerap bertelur di pesisir Pantai Tegal Besar sebagai habitatnya.

Baca: Orangtua Siswa Termakan Isu Sekolah Tak Berprestasi, SDN 3 Tianyar Tengah Kesulitan Dapat Siswa Baru

Baca: 100 Warga Urunan Rp 50 Ribu Per Orang, Perbaiki Enam Titik Jalan Secara Swadaya

Telur ini lalu diselamatkan oleh warga, kemudian ditangkarkan secara swadaya hingga menetas.

"Ada seratus telur penyu yang diselamatkan, lalu ada yang menetas 80 ekor. Itulah yang saat ini kami lepas liarkan," ungkapnya

Menurut Sulistyo, pesisir Pantai Lebih, Gianyar hingga Pantai Tegal Besar Klungkung, masih cukup representatif untuk habitat penyu bertelur.

Namun abrasi parah di pesisir Pantai Tegal Besar, membuat habitat penyu untuk bertelur semakin terancam.

Baca: Viral, Ketik Monyet Cukur Rambut di Google Kok Muncul Gambar Jokowi? Ternyata Ini Yang Terjadi

Baca: DLH Olah Sisa Perompesan jadi Pupuk Organik, Masyarakat Bangli Boleh Ambil Gratis Sampai Lima Kampil

"Ancaman alami dari tukik ini seperti anjing liar, biawak, kepiting, ataupun semut. Namun abrasi, termasuk bangunan di sepadan pantai membuat habitat penyu untuk bertelur semakin terancam," ungkap Sulistyo.

Perbekel Negari Gusti Agung Ngurah Agung menjelaskan, aktivitas penangkaran tukik ini merupakan inisitatif dari warga setempat. Saat hari Purnama, mereka mengambil telur penyu di pesisir.

Lalu dipindahkan untuk ditangkarkan, hingga menetas. Lalu tukik dilepas kembali ke habitanya di lautan lepas.

"Kegiatan ini inisiatif dari warga, karena kepedulian kami dengan spesies penyu yang semakin terancam," jelasnya. (*)

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved