DLH Olah Sisa Perompesan jadi Pupuk Organik, Masyarakat Bangli Boleh Ambil Gratis Sampai Lima Kampil

Sampah pepohonan hasil perompesan di wilayah Kabupaten Bangli, selama ini diolah kembali menjadi pupuk organik

DLH Olah Sisa Perompesan jadi Pupuk Organik, Masyarakat Bangli Boleh Ambil Gratis Sampai Lima Kampil
Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Petugas DLH saat melakukan pengolahan sampah pepohonan untuk dijadikan pupuk organik di TPST Bebalang, di Kelurahan Bebalang, Kecamatan Bangli, Bangli, Bali, Kamis (4/7/2019). DLH Olah Sisa Perompesan jadi Pupuk Organik, Masyarakat Bangli Boleh Ambil Gratis Sampai Lima Kampil 

DLH Olah Sisa Perompesan jadi Pupuk Organik, Masyarakat Bangli Boleh Ambil Gratis Sampai Lima Kampil

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Berita terkini Bangli, Bali, sampah pepohonan hasil perompesan di wilayah Kabupaten Bangli, selama ini diolah kembali menjadi pupuk organik.

Hasilnya, masyarakat Bangli bisa memanfaatkan pupuk tersebut tanpa dipungut biaya.

Seperti yang terlihat di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) di Kelurahan Bebalang, Kecamatan Bangli, Bangli, Bali.

Di tempat ini, belasan bak penampungan sampah penuh dengan material pepohonan hasil perompesan.

Sedangkan beberapa pegawai terlihat sibuk mengeruk dedaunan itu untuk dimasukkan ke dalam sebuah mesin.

Baca: PAD Badung 2019 Meleset dari Rp 6,7 Triliun, Hampir Semua Anggaran OPD Dipangkas

Baca: Startup Fotografi SweetEscape Asal Indonesia Dapat Suntikan Dana Rp 84 Miliar

Kasi Pengolahan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bangli Desak Made Suarni, saat ditemui Kamis (7/4/2019), mengatakan proses pengolahan pupuk organik, berasal dari sampah daun hasil pemangkasan pohon perindang di sekitar wilayah Bangli.

Pengolahan ini dilakukan setiap hari, dengan jumlah pupuk yang dihasilkan mencapai 600 kilogram.

Untuk menjadi pupuk, diperlukan beberapa tahapan. Mulai dari pemangkasan cabang, pencacahan, fermentasi, hingga penyekaman.

Jika dihitung dari awal hingga menjadi pupuk, Suarni mengaku butuh waktu hingga dua minggu.

Bahan baku berupa sampah dedaunan pun, kata Suarni tidak melulu hasil dari perompesan. Namun juga masyarakat sekitar yang melakukan perompesan secara mandiri.

Baca: Video Kepolosan Diwan Rajai YouTube Hingga Ditonton 7,6 Juta Kali, Baim Wong: Pusing Mikirin Konten

Baca: DPRD Karangasem Soroti Silpa Tahun 2018 Capai Rp 120 Miliar Lebih

“Seluruhnya pupuk hasil pengolahan ini, digunakan untuk kebutuhan pupuk petani, masyarakat Bangli, maupun Pemkab Bangli. Kalau masyarakat luar daerah tidak dikasi. Khususunya untuk masyarakat, pengambilan pupuk tidak dipungut biaya sedikitpun. Namun dibatasi jumlah pengambilannya agar pembagiannya merata. Maksimal lima kampil (karung),” ucapnya.

Kepala DLH Bangli Ida Ayu Yudi Sutha menjelaskan, pengelolaan sampah organik tidak hanya di TPST Bebalang, namun juga dilakukan di Guliang Kangin, Desa Taman Bali, Bangli, Bali.

Sedangkan penyediaan pupuk organik secara gratis, menurutnya adalah suatu upaya untuk mengubah kebiasaan menggunakan pupuk kimia di masyarakat, sehingga menekan dampak kerusakan lingkungan.

“Kedepan kami akan menambah TPST ini di kawasan Geopark, Kintamani. Kami juga selama ini sudah mendorong desa-desa di Bangli untuk membuat TPST melalui ADD (Alokasi Dana Desa) masing-masing,” tandasnya. (*)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved