Abrasi dan Maraknya Bangunan di Sempadan Pantai Ancam Habitat Penyu Berkembang Biak

Abrasi yang semakin parah dan maraknya pembangunan di sempadan pantai membuat habitat penyu kian terancam.

Abrasi dan Maraknya Bangunan di Sempadan Pantai Ancam Habitat Penyu Berkembang Biak
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Warga dan BKSDA Bali melepasliarkan 80 tukik di Pantai Tegal Besar, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Jumat (5/7/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Ratusan warga berkumpul di pesisir Pantai Tegal Besar, Desa Negari, Banjarangkan, Klungkung, Jumat (5/7/2019).

Anak-anak hingga dewasa terlihat sangat antusias untuk melepasliarkan tukik bersama beberapa personel BKSDA Bali.

Pesisir Pantai Tegal Besar, selama ini memang dikenal sebagai habitat penyu untuk bertelur. Namun, abrasi yang semakin parah membuat habitat itu kian terancam.

"Sudah lama lokasi ini menjadi habitat penyu untuk bertelur," ujar warga setempat, I Nyoman Balon.

Biasanya penyu datang ke pesisir untuk bertelur di Pantai Tegal Besar saat hari purnama, sekitar bulan April hingga Oktober.

Kondisi alam saat ini justru menjadi ancaman bagi penyu untuk berkembang biak.

Abrasi membuat penyu semakin kesulitan menemukan tempat yang representatif untuk bertelur.

Selain itu, ombak besar yang kerap menerjang pesisir juga membuat telur semakin sulit untuk menetas secara alami.

"Kondisi alam saat ini semakin tidak bagus untuk telur penyu itu menetas alami. Gelombang yang besar, membuat ombak kerap menerjang pesisir pantai yang menjadi lokasi penyu bertelur. Sehingga telur penyu itu harus kami selamatkan, agar tingkat keberhasilannya untuk menetas semakin tinggi," jelas Nyoman Balon.

Setiap bulan purnama menjelang, Nyoman Balon dan warga lainnya selalu menyusuri pesisir Pantai Tegal Besar.

Halaman
12
Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved