Warga Petulu Gianyar Iuran Rp 3,2 Juta Per KK, Perbaiki Jalan yang 'Benyah Latig' Secara Swadaya

warga Banjar Nagi, Desa Petulu, Ubud membenahi jalan lingkungan atau Jalan Apit Pangkung dengan dana swadaya yakni Rp 3,2 juta per keluarga

Warga Petulu Gianyar Iuran Rp 3,2 Juta Per KK, Perbaiki Jalan yang 'Benyah Latig' Secara Swadaya
Tribun Bali/Eri Gunarta
Pekerja tengah memasang paving di Jalan Apit Pangkung, Banjar Nagi, Desa Petulu, Ubud, Jumat (5/7/2019). Warga menggunakan dana swadaya untuk membiayai perbaikan jalan yang rusak ini. 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Permasalahan infrastruktur masih saja terjadi di Gianyar.

Tidak sedikit warga yang akhirnya memperbaiki jalan menggunakan dana swadaya, seperti yang dilakukan warga Banjar Nagi, Desa Petulu, Ubud.

Mereka membenahi jalan lingkungan atau Jalan Apit Pangkung dengan dana swadaya yakni Rp 3,2 juta per keluarga.

Seorang warga, Wayan Wiyadnya, Jumat (5/7/2019) mengatakan, Jalan Apit Pangkung merupakan kawasan gang di Banjar Nagi dengan panjang sekitar 120 meter.

Jalan tersebut juga menjadi aksesibilitas Ida Bhatara Sesuhunan saat mengelilingi kawasan banjar pada hari-hari tertentu.

Selama ini, jalan tersebut kondisinya rusak parah. Bahkan masyarakat, terutama anak-anak kerap jatuh saat bersepeda di sana.

Mengingat kondisi jalan yang sudah ‘benyah latig’, warga yang rumahnya berada di kawasan jalan ini berinisiatif untuk memperbaiki.

Awalnya mereka mengusulkan pada prajuru banjar.

Namun lantaran banyak infrastruktur jalan banjar ini yang masih rusak, dan juga perlu perbaikan, alokasi dana desa dan dana pemerintah tidak pernah sampai menyentuh ke gang tersebut.

Lantaran tidak ingin menikmati jalan rusak berlarut-larut, kata Wiyadnya, pihaknya pun melakukan perbaikan secara swadaya.

“Di kawasan ini ada 22 rumah, per kepala keluarga iuran Rp 3,2 juta. Pemborong mengatakan dana yang dibutuhkan untuk perbaikan jalan sekitar Rp 70 juta. Saat ini dana sudah terkumpul. Perbaikannya dalam bentuk pavingisasi. Kami lakukan perbaikan secara swadaya karena tidak ingin terus menikmati jalan rusak seperti ini. Apalagi anak-anak sering jatuh saat bersepeda,” ujarnya.

Kelian Dinas Banjar Nagi, Wayan Warnama membenarkan bahwa pihaknya mendapatkan aspirasi untuk memperbaiki jalan di gang tersebut.

Namun untuk saat ini permintaan tersebut tidak bisa terwujud lantaran alokasi dana yang diterima relatif terbatas.

Sementara di sisi lain, masih banyak aksesibilitas yang rusak termasuk jalan menuju setra (kuburan) dan pesiraman Ida Bhatara.

“Masih banyak jalan yang rusak, perlu perbaikan. Terutama jalan-jalan untuk adat. Kalau semua infrastruktur ini sudah bagus, tentu nanti bantuan dari pemerintah akan diarahkan ke jalan gang. Saat ini saya hanya berharap masyarakat bersabar,” ujarnya. (*)

Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved