Disebut Peringkat Ketiga Kasus Stunting Terbanyak, Dinkes Bangli Lakukan Klarifikasi Lapangan

Sebuah survei menempatkan Bangli sebagai peringakat ketiga di Provinsi Bali, setelah Gianyar dan Buleleng dengan kategori stunting terbanyak

Disebut Peringkat Ketiga Kasus Stunting Terbanyak, Dinkes Bangli Lakukan Klarifikasi Lapangan
Istimewa
Petugas Dinkes Bangli saat melakukan pengukuran kepada balita yang diduga terkategori stunting, Jumat (5/6/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Menurut sebuah survey tahun 2018 lalu, wilayah Kabupaten Bangli menduduki peringat ketiga terbanyak kasus stunting di Provinsi Bali.

Survey stunting ini, dibenarkan oleh Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Bangli, I Nyoman Arsana.

Ia mengatakan, survey tersebut dilakukan pada tahun 2018 lalu, oleh kementerian kesehatan bekerja sama dengan pihak ketiga.

Survey, lanjutnya, dilakukan dengan metode sampling terhadap bayi yang baru lahir hingga berusia lima tahun kurang sehari.

Hasilnya, sebanyak 28 persen dari batas normal 20 persen, balita dari beberapa desa di Bangli mengalami stunting.

Seperti Desa Awan dan Desa Pengejaran, Kintamani; Desa Undisan, Tembuku; Desa Tiga, Susut, dan sebagainya.

Dari hasil ini pula, menempatkan Bangli sebagai peringakat ketiga di Provinsi Bali, setelah Gianyar dan Buleleng dengan kategori stunting terbanyak. Namun demikian, Arsana menyangsikan hasil survey tersebut.

"Karena dilakukan oleh pihak ketiga, kami tidak bisa intervensi. Sedangkan dari data hasil survey itu, menurut kami tidak 100 persen benar. Sebab itu kami dari dinas kesehatan melakukan klarifikasi kepada masyarakat, yang nama dan alamatnya tercantum pada hasil survey itu," ujarnya Minggu (7/7/2019).

Klarifikasi oleh pihaknya, melibatkan seluruh petugas puskesmas di Kabupaten Bangli. Dari hasil klarifikasi sementara, Arsana menyebut jumlah balita terkategori stunting masih dibawah 20 persen.

"Setelah dikunjungi dan diukur ulang, beberapa balita yang namanya tercantum, ternyata beberapa sudah tidak lagi. Jadi ada dua kemungkinan, apakah setahun lalu dia memang stunting namun setelah kami lakukan intervensi dan bisa membaik; atau ada salah ukur. Namun kita tetap berpikir positif saja. Tidak saling menyalahkan," ungkapnya.

Pengertian stunting berbeda dengan cebol. Jelas Arsana, stunting lebih kepada tinggi badan anak berdasarkan usianya.

Mengingat penelitian saat itu menyasar bayi berusia 0 hingga 5 tahun kurang 1 hari, menurutnya stunting pada balita masih berada pada fase pencegahan dan bisa diperbaiki.

"Sebenarnya masa pencegahan terbaik berada di usia 2 tahun. Itu merupakan golden period. Meski demikian, saat anak menginjak usia lima tahun masih bisa diperbaiki agar tidak stunting. Sedangkan cebol, itu tidak bisa (diperbaiki) sama sekali," jelasnya.

Arsana mengatakan hasil survei yang dilakukan tahun 2018 lalu telah berada di pusat. Sedangkan hasil klarifikasi yang dilakukan, menurutnya menjadi arsip dinas kesehatan dan laporan kepada bupati, kepala dinas, maupun masyarakat terhadap hasil sebenarnya.

"Ada beberapa desa yang juga tidak puas dengan hasil suvei tersebut. Ini disebabkan mereka khawatir desanya mendapat stigma buruk. Di lain sisi, positifnya kami mendapat kegiatan dari kementrian sebagai tempat penghentasan stunting pada tahun 2020 mendatang," tandasnya. (*)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved