BPS Provinsi Bali Catat Indeks Nilai Tukar Petani Juni 2019 Mengalami Kenaikan

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat, pada bulan Juni 2019, indeks nilai tukar petani (NTP) di Bali mengalami kenaikan

BPS Provinsi Bali Catat Indeks Nilai Tukar Petani Juni 2019 Mengalami Kenaikan
Tribun Bali/Rizal Fanany
Warga memanen hasil pertanian di Desa Amed dengan latar belakang Gunung Agung, Karangasem, Selasa (26/9/2017). (Rizal Fanany/Tribun Bali) 

Laporan Jurnalis Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat, pada bulan Juni 2019, indeks nilai tukar petani (NTP) di Bali mengalami kenaikan.

Kenaikan indeks NTP tersebut setinggi 0,20 persen jika dibandingkan dengan bulan Mei sebelumnya, dari 103,37 menjadi 103,58.

Kepala BPS Provinsi Bali Adi Nugroho mengatakan, kenaikan ini disebabkan oleh turunnya indeks harga yang diterima petani yang lebih dangkal daripada penurunan indeks harga barang dan jasa yang dibayar oleh petani.

Indeks harga yang diterima petani, jelasnya, tercatat 136,56 atau turun 0,001 persen dibandingkan bulan Mei 2019 yang besarnya 136,57.

Sedangkan indeks yang dibayar petani tercatat mengalami penurunan sedalam 0,20 persen dari 132,11 di bulan Mei menjadi 131,85 di Juni 2019.

Dijelaskan, Nilai Tukar Petani atau Farmers Term of Trade merupakan salah satu indikator proksi untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan.

"NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian terhadap barang dan jasa yang diperlukan petani untuk biaya produksi usaha pertaniannya maupun untuk konsumsi rumah tangganya," jelas Adi Nugroho di kantornya belum lama ini.

Indeks NTP diperoleh dari perbandingan antara indelks harga yang diterima petani (it) dengan indeks harga yang dibayar petani (Ib).

"Semakin tinggi indeks NTP, secara relatif mencerminkan semakin kuat pula peranannya pada ukuran tingkat kemampuan atau daya beli petani," kata dia.

Dilihat menurut subsektornya, kenaikan NTP pada bulan Juni 2019 tercatat pada tiga subsektor, diantaranya subsektor tanaman perkebunan rakyat 2,75 persen.

Kemudian disusul dengan subsektor tanaman pangan yang naik sebesar 0,91 persen dan subsektor perikanan kenaikannya senilai 0,55 persen.

Sementara itu, subsektor hortikultura dan peternakan tercatat mengalami penurunan masing masing sedalam 1,58 persen dan 0,51 persen. (*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved