Selamatkan Naskah Lontar, Museum Lontar Dukuh Penaban Digitalisasi Agar Bisa Akses Online

Pengurus Museum Lontar Dukuh Penaban, bekerjasama dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo mendigitalisasi lontar di Museum Lontar

Selamatkan Naskah Lontar, Museum Lontar Dukuh Penaban Digitalisasi Agar Bisa Akses Online
Tribun Bali/Saiful Rohim
Dosen ISI Solo mengajarkan proses digitalisasi lontar di Museum Lontar, Desa Adat Dukuh Penaban, Kecamatan Karangasem, Selasa (9/7/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Pengurus Museum Lontar Dukuh Penaban, bekerjasama dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo mendigitalisasi lontar di Museum Lontar Desa Adat Dukuh Penaban, Kecamatan Karangasem, Selasa (9/7/2019).

Digitalisasi bertujuan untuk penyelamatan transkrip dan naskah lontar.

"Ini untuk mengantisipasi kekhawatiran hilang sehingga lontar tetap terjaga. Ini bagian dari pelestarian," ungkap Bendesa Adat Dukuh Penaban, Nengah Suarya.

Teknik digitalisasi yakni menggunakan kamera dan LED. Lontar difoto dan di bawahnya berisi deskripsi serta terjemahan ke Bahasa Indonesia.

Lontar yang sudah digitalisasi bisa diakses lebih mudah melalui internet.

"Kurator yang menterjemahkan dari Bahasa Bali ke bahasa latin sebanyak lima orang. Mereka adalah Dewa Catra, Sugi Lanus, Ketut Artana, dan didukung Dirjen Kebudayaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan," ujar Nengah Suarya.

Museum lontar di Dukuh Penaban menjadi pusat edukasi bagi warga. Koleksi lontar yang teregistrasi sebanyak 350 cakap. Lontar tersebut meliputi usadha, tutur, kawisesan, dan lainnya.

Sedangkan transkrip lontar yang dialihkan ke bahasa latin mencapai 8.800 transkrip.

Pihaknya belum memiliki rencana menyalin transkrip ke lontar lantaran membutuhkan anggaran cukup besar. Ia berjanji akan menyalin transkrip latin secara bertahap.

"Untuk transkrip yang sudah teregistrasi sekitar 4.000," kata Suarya.

Dosen Program Studi Photograpy ISI Solo, Agus Heru Setiawan mengatakan, latar belakang digitalisasi lontar karena keunikaan museum lontar yang digarap secara kolektif oleh warga.

Pihaknya terketuk usai mendengar cerita museum lontar di Penaban. Prinsip kerja yakni murah, mudah, manfaat, dan mobilitas.

"Tim dari ISI yang ke museum tiga orang. Saya, Ketut Gurah Arta, dan Andri Prastyo. Sebelumnya kita juga pernah melakukan plestarian manuskrip di radia pustaka di Solo. Kami juga pernah digitalisasi naskah kuno," ujar Agus Heru Setiawan. (*) 

Penulis: Saiful Rohim
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved