Breaking News:

Jeruk Siam Murah Jelang Panen Raya, Wistawa Sebut Ini Harga Terendah

Jelang panen raya Agustus 2019 mendatang, petani jeruk di wilayah Kintamani justru merasa ketar-ketir karena harga jeruk siam jauh dari harga normal

Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Irma Budiarti
Dok Pande Gede Wistawa
JERUK - Buah jeruk di perkebunan milik Pande sudah tampak menguning, Rabu (10/7/2019). Jeruk Siam Murah Jelang Panen Raya, Wistawa Sebut Ini Harga Terendah 

Sebab naik-turunnya harga jeruk, tergantung pada permintaan di luar Bali.

Hari raya Galungan yang akan berlangsung tidak terlalu berpengaruh. Sebab peningkatan harga ini hanya terjadi di pasar wilayah Bali.

Dari segi kuantitas permintaan cenderung mengalami penurunan sejak beberapa tahun belakangan.

"Kalau pada tahun 2013-2014 lalu, permintaan jeruk khususnya dari wilayah Jakarta dan Jawa Barat, dalam sehari mencapai dua hingga truk dari Bali. Di mana satu truk mampu menampung hingga 5,5 ton jeruk. Sedangkan saat ini, pengiriman dua hingga tiga truk dilkukan dalam sepekan," katanya.

Di lain sisi, jika permintaan pada musim panen nantinya tinggi, hasil produksi jeruk juga diakui tidak maksimal.

Cuaca buruk hingga material vulkanik hujan abu erupsi Gunung Agung beberapa waktu lalu, diyakini menjadi masalah.

Baca: Keluarga Semangati Hariyanto, Pemilik Senpi Diganjar Penjara Delapan Bulan

Baca: TRIBUN WIKI - 5 Rekomendasi Toko Tekstil di Kuta dan Sekitarnya

"Beberapa waktu lalu kan sempat terjadi hujan abu. Padahal di saat bersamaan, pohon jeruk sedang dalam proses pembuahan. Akhirnya rontok. Belum lagi ditambah dengan cuaca buruk. Pengalaman sebelumnya, jika dalam satu pohon mampu menghasilkan hingga 35 kilo jeruk, saat itu hanya menghasilkan 20 kilogram. Artinya ada penurunan hingga 15 kilogram," bebernya.

Meski tren harga jeruk siam kini berada di angka Rp 5.000, Pande mengaku harga tersebut masih lebih tinggi dibandingkan harga varietas jeruk selayer.

Di mana pada panen raya saat ini, harganya anjlok di angka Rp 2.000 per kilogram.

"Ini karena jeruk siam cenderung lebih banyak diminati daripada varietas jeruk selayer. Disamping itu dari segi rasa, jeruk selayer juga sedikit asam dibandingkan jeruk siam. Harga ini juga terpengaruh dari jeruk siam yang sudah nampak menguning dan siap dipanen," ujarnya.

Dengan tidak menentunya harga jeruk dipasaran, Pande berharap ada peran serta dari pemerintah dalam bentuk dukungan kepada para petani.

Caranya dengan mengadakan pelatihan untuk mengolah hasil produksi jeruk menjadi produk siap jual.

“Paling tidak cara ini mampu memberdayakan UMKM atau masyarakat di Bangli, selain juga membantu kalangan petani disaat harga jeruk anjlok,” harapnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved