Kisah Miris Danjen Kopassus Idjon Djanbi, Jabatan Dilucuti, Saat Meninggal Tak Ada Upacara Khusus

Pecahnya Perang Dunia II tahun 1939, membuat Visser tidak bisa pulang ke Belanda karena telah dikuasai Jerman.

Kisah Miris Danjen Kopassus Idjon Djanbi, Jabatan Dilucuti, Saat Meninggal Tak Ada Upacara Khusus
(Tribun Jambi)
Rokus Barendregt Visser atau Idjon Djandbi 

TRIBUN-BALI.COM- Danjen Kopassus pertama, Idjon Djanbi mengalami nasib yang cukup miris jelang akhir kariernya di pasukan baret merah

Dilansir dari buku 'Kopassus: Inside Indonesia's Special Forces' karya Ken Conboy, saat itu sejumlah pemimpin militer setuju melucuti kewenangan Idjon Djanbi, termasuk mengurangi porsi dalam melatih Kopassus

Namun, rencana tersebut tak dapat terlaksana karena belum ada calon yang kuat untuk menggantikan Idjon Djanbi sebagai Danjen Kopassus

Setelah beberapa lama Idjon Djanbi melatih di Kopassus, sebanyak 44 siswa dari 80 orang dinyatakan lulus, Benny Moerdani salah satu di antaranya.

Meski dinyatakan lulus, bukan berarti penolakan mereka terhadap Idjon Djanbi telah padam.

Pada 25 Juli 1955, KKAD berganti nama menjadi Resimen Para Komando Angkatan Darat atau RPKAD.

Setahun kemudian, kekuatan RPKAD meningkat berkali lipat.

Kopassus
Kopassus (Tribunnews)

RPKAD menerima 126 siswa sebagai tambahan kekuatan.

Saat itulah kader senior RPKAD mengusulkan agar komanda diganti menjadi pribumi.

Para petinggi militer di Jakarta setuju dengan usul tersebut.

Halaman
1234
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved