Koplak dan Men Coblong: Sebuah Kritik, Sindiran dan Lelaki yang Sadar Gender

Minggu esok, dua buku sastrawan Oka Rusmini yang berjudul Men Coblong dan Koplak akan diluncurkan sekaligus dibedah dalam program Pustaka Bentara

Koplak dan Men Coblong: Sebuah Kritik, Sindiran dan Lelaki yang Sadar Gender
Dok Oka Rusmini
Oka Rusmini bersama keluarga. Oka Rusmini kembali menertibkan dua karya terbarunya yaitu Koplak dan Men Coblong. Koplak dan Men Coblong: Sebuah Kritik, Sindiran dan Lelaki yang Sadar Gender 

Koplak dan Men Coblong: Sebuah Kritik, Sindiran dan Lelaki yang Sadar Gender

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Minggu (14/7/2019) esok, dua buku sastrawan Oka Rusmini yang berjudul Men Coblong dan Koplak akan diluncurkan sekaligus dibedah dalam program Pustaka Bentara di Bentara Budaya Bali.

Tahun 2019 ini, Oka menerbitkan sekaligus dua bukunya yang dianggap sebagai buku kembar buncing karena berkisah tentang perempuan (Men Coblong) dan lelaki (Koplak) yang diterbitkan Grasindo.

Penulis kelahiran Jakarta, 11 Juli 1967 ini mengatakan, buku Men Coblong meneriakan tanggapan, kritik dan sindiran pedas seputar sensitivitas agama, budaya, politik, bahkan kehidupan sehari hari.

“Ini bukan kumpulan cerpen, bukan esai, atau kolom, tapi ini perpaduan ketiganya yang menawarkan sesuatu yg baru, nyeleneh dan inovatif,” kata Oka kepada Tribun Bali, Sabtu (13/7/2019) siang.

Sementara buku Koplak beranjak dari ide bahwa lelaki juga bisa jadi feminis dan sadar gender.

Selain dua buku ini, Oka juga telah menerbitkan beberapa buku seperti Monolog Pohon (1997), Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003), Patiwangi (2003), Warna Kita (2007), Akar Pule (2012), Pandora (2008), Tempurung (2010), Saiban (2014).

Baca: Miracle Aesthetic Clinic Hadirkan Miracle AnniverSALE 12-15 Juli 2019

Baca: 6.275 Masyarakat Denpasar Pakai Aplikasi Sidarling, Pemilahan Sampah Rumah Tangga Berbasis NIK

Made Adnyana Ole yang akan membedah buku Koplak mengatakan Oka dalam menulis apa saja pastilah bisa dilakukan dengan mudah dan mengalir.

“Ketika mahasiswa, dulu, Oka memang jagonya menulis serial dengan mengambil kisah-kisah ringan yang dipungut tak jauh dari pergaulan masa muda di kampus atau di luar kampus. Saya ingat ia pernah menulis serial anak-anak S’Brono, yang kisah-kisahnya diduga dicuri dari obrolan-obrolan antarteman,” kata Ole.

Halaman
123
Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved