Kerugian Materil Akibat Bencana Mencapai Rp 4,6 Miliar, Kini Bangli Waspadai Kekeringan

Bencana alam yang terjadi di wilayah Kabuapten Bangli sejak awal tahun 2019 hingga kini menyebabkan kerugian materil mencapai Rp 4,6 miliar

Kerugian Materil Akibat Bencana Mencapai Rp 4,6 Miliar, Kini Bangli Waspadai Kekeringan
Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Dok. Tribun Bali - Petugas menyingkirkan bongkahan batu besar material longsor dari Bukit Abang, Bangli, Jumat (18/1/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Bencana alam yang terjadi di wilayah Kabuapten Bangli sejak awal tahun 2019 hingga kini telah menyebabkan kerugian materil mencapai Rp 4,6 miliar.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Bangli, I Wayan Karmawan ketika dikonfirmasi Senin (15/7/2019) membenarkan hal tersebut.

Kerugian materil terbesar dikatakan yakni dampak bencana akibat tanah longsor di Desa Belandingan, Kintamani pada 28 Januari silam.

“Bencana ini menyebabkan kerugian mencapai Rp 700 juta. Bencana ini berdampak pada jebolnya sandaran di Pura Mas Manik Muncar hingga menimpa bangunan di sekitarnya,” ujar Karmawan.

Selain itu, kerugian materil yang tergolong besar juga terjadi akibat sambaran petir yang terjadi pada 5 April lalu.

Kejadian tersebut menyebabkan rumah di wilayah Banjar Beluhu, Desa Suter, Kintamani milik Jero Kertadana hancur pada bagian atap dan seisi rumah.

Karmawan mengungkapkan, rentetan bencana alam sejak awal tahun 2019 didominasi oleh kejadian pohon tumbang dan tanah longsor.

Sementara kejadian lain yakni berupa banjir, angin kencang, serta kebakaran.

Pejabat asal Desa Selulung, Kintamani ini juga mengatakan musibah alam yang juga berpotensi terjadi di Bangli yakni kekeringan serta kebakaran hutan.

“Di Kabupaten lain seperti Singaraja maupun Karangasem, memang sudah dilaporkan kekeringan. Sedangkan di Bangli, pada bulan Juni-Juli masih kerap turun hujan. Biasanya di Bangli baru memasuki musim kemarau pada bulan Agustus-September. Untuk musibah kebakaran hutan, wilayah yang berpotensi yakni di sekitaran Desa Kutuh, Kintamani,” sebutnya.

Berdasarkan pemetaan yang dilakukan oleh BPBD Bangli, potensi musibah kekeringan ini terdapat di tiga titik, yaitu wilayah Desa Yangapi, Kecamatan Tembuku; wilayah Desa Suter dan beberapa desa lain di balik bukit Kecamatan Kintamani; serta wilayah Desa Pengotan-Landih, Kecamatan Bangli.

“Pengalaman tahun lalu, kebutuhan air bersih tidak terlalu banyak. Namun dua hingga tahun sebelumnya, kami sempat mendatangkan bantuan tangki dari (BPBD) provinsi dan kabupaten lain,” tandasnya. (*)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved