Ngopi Santai

Si Bening yang Bersemayam di Perut Raja Laut

Tiba-tiba tergelitik, mengapa Indonesia atau Bali tidak meniru langkah negeri Afrika tersebut? Larang penuh penggunaan kantong plastik sekali pakai.

Si Bening yang Bersemayam di Perut Raja Laut
Tribun Bali/Rizal Fanany
Sejumlah pemulung memungut sampah plastik di Pantai Kedonganan, Badung, Sabtu (26/1). Sampah musiman ini memberi keuntungan bagi pemulung yang bisa mengumpulkan sampah plastik 70 kilo per hari 

Begitulah adanya. Pemandangan jamak di berbagai pelosok NTT adalah sampah plastik bertebaran. Bahkan daerah cagar alam seperti Gunung Mutis pun tidak luput. Demikian pula Labuan Bajo, Pulau Padar di kawasan Taman Nasional Komodo, Flores Barat yang kesohor itu. Masih saja orang membuang sampah plastik sesukanya.

Jadi langkah Bali mengurangi timbunan sampah plastik merupakan pilihan yang baik. Destinasi wisata andalan provinsi ini bakal kehilangan pesona manakala sampah plastik berlepotan di mana-mana. Lantas apakah Pergub Bali Bali No. 97 Tahun 2018 tersebut efektif? Apa indikator untuk mengukur level keberhasilannya?

*

Mari sejenak berkaca. Kampanye nasional memerangi sampah plastik di Indonesia bisa dilukiskan masih setengah hati. Sampai saat ini pemerintah belum pernah memastikan berapa penurunan penggunaan kantong plastik sejak diterapkan kebijakan kantong plastik berbayar pada 21 Februari 2016.

Mohon maaf tuan dan puan. Efektivitas kebijakan yang bertujuan mengurangi jumlah sampah plastik ini fakir hasil. Jauh panggang dari api. Tipis rasa optimistis sampah bakal menjauh dari saluran air, sisi jalanan dan lautan biru Nusantara yang kaya ikan dan udang.

Maka bolehlah berlayar ke negeri nun jauh Afrika. Berguru dulu ke Kenya barang sejenak karena untuk urusan ini bukan saat yang elok menimba ilmu sampai ke negeri China.

Wartawan Kompas, Ahmad Arif dalam Harian Kompas, 11 April 2019 halaman 10 melaporkan pengalaman inspiratif yang patut ditiru.

Kenya merupakan negara yang membelakukan larangan penuh penggunaan kantong plastik. Negeri itu menerapkan larangan memakai, memproduksi dan mengimpor kantong plastik. Sanksi berat dikenakan bagi pelanggar. Bukan main keras dan beratnya yaitu berupa denda uang mulai dari 19.000 dollar hingga 30.000 dolar AS (kurang lebih Rp 400 juta) hingga penjara 4 tahun.

Hanya setahun sejak pemberlakuan larangan itu, lingkungan di Nairobi, ibukota Kenya mengalami transformasi luar biasa. Tidak terlihat lagi sampah plastik di sepanjang jalan yang terbang ke mana-mana kalau musim angin. Pun sirna sudah kebiasaan buruk sejumlah orang yang bungkus kotoran pascabuang hajat dengan kantong plastik lalu dilempar hingga kota ini dijuluki “toilet terbang”.

Lingkungan Nairobi bersih dari sampah kantong plastik. Di pasar swalayan atau pasar tradisional, orang membungkus barang belanjaan dengan kertas, kardus atau ngiri-ngiri, tas tradisional dari kulit atau kain.

Halaman
1234
Penulis: DionDBPutra
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved