Inilah Alasan Mengapa Raja Bali di Masa Lalu Peringatkan Umat Hindu Untuk Merayakan Galungan

Sebentar lagi masyarakat Hindu, khususnya di Bali akan merayakan hari raya Galungan ini pada Rabu (24/7/2019) mendatang.

Inilah Alasan Mengapa Raja Bali di Masa Lalu Peringatkan Umat Hindu Untuk Merayakan Galungan
Tribun Bali/Rizal Fanany
Sejumlah umat Hindu usai melaksanakan sembahyang Hari Raya Galungan di Pura Besakih, Karangasem, Rabu (1/11). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Di Bali, selama ini Hari Raya Galungan sering disebut sebagai hari kemenangan dharma melawan adharma.

Namun, I.B. Putu Suamba penulis beberapa buku seperti Siwa Budha di Indonesia dan juga Dosen Politeknik Negeri Bali, Galungan juga sering dikaitkan dengan pemujaan kepada Bhatari atau Dewi Durga.

Galungan dilaksanakan pada hari Buda (Rabu) Kliwon Dungulan, setiap enam bulan sekali dan dirangkaian dengan Kuningan.

Dan sebentar lagi masyarakat Hindu, khususnya di Bali akan merayakan hari raya Galungan ini pada Rabu (24/7/2019) mendatang.

Menurut Suamba, Rangkaian Galungan merupakan rangkaian upacara terpanjang yaitu mulai dari sejak hari Tumpek Wariga hingga Buda Kliwon Pahang dengan waktunya 42 hari.

Bahkan menurutnya Galungan tidak pernah ke-cuntakaan-an, artinya tidak pernah berhenti melaksanakan Galungan karena kematian atau keadaan-keadaan lain.

"Cerita dari Sri Jaya Sunu, seorang raja di Bali pada masa lalu memperingatkan kepada umat Hindu agar tidak pernah lupa melaksanakan Galungan apabila manusia dan masyarakatnya ingin hidup sehat, tentram dan bahagia. Usia raja-raja di Bali pada masa itu pendek (cendek tuwuh) karena Galungan tidak lagi dilaksanakan," katanya saat Rembug Sastra Purnama Bhadrawadha, Selasa (17/7/2019) malam di Pura Jagatnata Denpasar.

Panugrahan Bhatari Durga kepada Raja Jayasunu mengandung pemaknaan bahwa Galungan berkaitan dengan Durga Dewi.

Galungan juga disebut Rainan Gumi dimana semua pelinggih bahkan alat-alat rumah tangga juga kepada Dewa Penguasanya diperesembahkan banten atau sajen dan menurutnya hal ini juga terjadi di beberapa wilayah di India.

Ia menambahkan, dalam pelaksanaannya, apabila Galungan bertepatan dengan Purnama disebut Galungan Nadi, apabila bertepatan dengan Tilem pada Sasih Kasanga disebut Galungan Nara Mangsa.

Halaman
123
Penulis: Putu Supartika
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved