Kasus Perpeloncoan Kembali Telan Korban Jiwa, Sempat Koma Setelah Ditendang Senior

Kasus Perpeloncoan Kembali Telan Korban Jiwa, Sempat Koma Setelah Ditendang Senior

Kasus Perpeloncoan Kembali Telan Korban Jiwa, Sempat Koma Setelah Ditendang Senior
NET
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM, BANGKOK - Kasus perpeloncoan di lembaga-lembaga negara di Thailand kembali menelan korban jiwa.

Seorang siswa sekolah menengah di Thailand, yang sempat jatuh koma akibat tindak kekerasan teman-teman sekolahnya, meninggal dunia, pada Kamis (18/7/2019).

Ritual perpeloncoan yang secara umum disebut SOTUS, atau senioritas (seniority), ketertiban (order), tradisi (tradition), persatuan (unity), dan semangat (spirit), telah dianggap sebagai hal biasa di kampus, sekolah kejuruan, sekolah menengah, bahkan akademi militer, yang digelar setiap tahun.

Para siswa yang lebih muda itu kerap diwajibkan menjalani ujian mental dan fisik yang ditetapkan oleh kakak tingkat mereka, mulai dari hal-hal remeh seperti membawa barang-barang milik senior, hingga yang menyebabkan cedera parah, bahkan dalam kasus ekstrem, berujung pada kematian.

Kasus terakhir yang berakhir fatal dialami seorang bocah laki-laki berusia 15 tahun di provinsi Nakhon Pathom.

Pathom dilaporkan diserang pada akhir bulan lalu oleh tiga seniornya, yang diduga menendangnya dengan keras pada bagian dada hingga menyebabkan remaja itu jatuh koma.

Namun polisi mengonfirmasi remaja itu telah meninggal pada Kamis (18/7/2019) dan ketiga senior yang didakwa telah melakukan penyerangan akan menghadapi tuduhan yang lebih serius.

Letnan kolonel polisi Pinyo Musiksan mengatakan, dakwaan yang dijatuhkan kepada ketiganya termasuk "niat untuk membunuh".

Demikian dilansir AFP.

Dua di antara senior itu akan diadili di pengadilan remaja karena masih berusia di bawah 18 tahun.

Halaman
12
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved