Inovasi SDN 1 Mambang di Tabanan, Olah 15 Ton Sampah Plastik Jadi Ecobrick untuk Tembok Penyengker

SDN 1 Mambang, Desa Mambang, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan berinovasi dengan membuat ecobrick dari olahan sampah plastik untuk tembok penyengker

Inovasi SDN 1 Mambang di Tabanan, Olah 15 Ton Sampah Plastik Jadi Ecobrick untuk Tembok Penyengker
Tribun Bali/Made Prasetia Aryawan
Sejumlah siswa saat memanfaatkan ecobrick untuk membuat tembok penyengker di SDN 1 Mambang, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan, Jumat (19/7/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - SDN 1 Mambang, Desa Mambang, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan berinovasi dengan membuat ecobrick untuk tembok penyengker (pembatas) sepanjang 101 meter dan tinggi 1,5 meter.

Mereka mengumpulkan lebih dari 10 ribu ecobrick hasil olahan sekitar 15 ton sampah plastik.

Ecobrick ini dipercaya mampu bertahan dalam jangka waktu 70 tahun bahkan lebih jika diletakkan di tempat yang teduh.

"Program ini sudah mulai beberapa tahun tapi pemanfaatannya belum terlalu besar seperti sekarang. Rencananya sekarang kita akan manfaatkan ecobrick ini untuk tembok penyengker," kata penggagas pembuatan ecobrick di SDN 1 Mambang, I Wayan Budi Susila saat dijumpai di sekolahnya, Jumat (19/7/2019).

Sejumlah siswa saat memanfaatkan ecobrick untuk membuat tembok penyengker di SDN 1 Mambang, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan, Jumat (19/7/2019).
Sejumlah siswa saat memanfaatkan ecobrick untuk membuat tembok penyengker di SDN 1 Mambang, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan, Jumat (19/7/2019). (Tribun Bali/Made Prasetia Aryawan)

Susila melanjutkan ada beberapa alasan yang menjadi dasar ecobrick digunakan untuk tembok penyengker.

“Nah sampai saat ini kami belum diberikan bantuan penyengker oleh pemerintah meskipun sudah berkali-kali dilakukan pengukuran oleh pihak kecamatan,” jelasnya. 

Selain itu, kata dia, juga menyangkut keamanan sekolah dan siswa, serta untuk keasrian sekolah.

Menurutnya dengan pemanfaatan ecobrick ini nantinya bisa memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa permasalahan sampah plastik tidaklah begitu besar jika memang ada niat disertai cara pengolahannya yang tepat.

"Nantinya akan mengurangi sampah plastik dalam jumlah besar sehingga dengan cara ini nantinya sampah plastik di TPA Mandung tak menggunung lagi," jelasnya.

Sejumlah siswa saat memanfaatkan ecobrick untuk membuat tembok penyengker di SDN 1 Mambang, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan, Jumat (19/7/2019).
Sejumlah siswa saat memanfaatkan ecobrick untuk membuat tembok penyengker di SDN 1 Mambang, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan, Jumat (19/7/2019). (Tribun Bali/Made Prasetia Aryawan)

Guru kelas 6 ini melanjutkan saat ini ecobrick mulai dipasok dari Dinas Lingkungan Hidup atau yang bersumber dari para pegawai atau sekolah di Tabanan.

Selain itu, SDN 1 Mambang juga sedang menerapkan program untuk siswanya sendiri.

"Setiap siswa juga diwajibkan menggunakan ecobrick sehingga ketika mereka jajan sampahnya langsung dibuatkan ecobrick. Jadi setiap siswa sudah punya botol air minum untuk selanjutnya diisi sampah," tegasnya.

Ia berharap ke depannya seluruh masyarakat mulai sadar akan bahaya sampah dengan membuat ecobrick di rumah masing-masing sehingga bisa mengurangi sampah plastik.

"Jika semua sadar pasti akan bisa mengurangi sampah plastik. Ecobrick ini memiliki manfaat yang sangat banyak, jadi tak hanya penyengker saja melainkan yang lain juga, seperti pembatas taman dan lain sebagainya," tandasnya. (*)

Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved