Jelang Penampahan Galungan, Dinas Pertanian Denpasar Antisipasi Tiga Penyakit Menular ke Manusia Ini

Dalam rangka Penampahan Galungan, Dinas Pertanian Kota Denpasar masih memperbolehkan masyarakat melakukan pemotongan secara swadaya

Jelang Penampahan Galungan, Dinas Pertanian Denpasar Antisipasi Tiga Penyakit Menular ke Manusia Ini
Humas Kota Denpasar
Tim dokter hewan saat mengecek kesehatan hewan babi sebelum tradisi penampahan Galungan. Jelang Penampahan Galungan, Dinas Pertanian Denpasar Antisipasi Tiga Penyakit Menular ke Manusia Ini 

Jelang Penampahan Galungan, Dinas Pertanian Denpasar Antisipasi Tiga Penyakit Menular ke Manusia Ini 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam rangka Penampahan Galungan, Dinas Pertanian Kota Denpasar masih memperbolehkan masyarakat di Kota Denpasar untuk melakukan pemotongan secara swadaya di kelompok maupun banjar.

Walaupun demikian, pihaknya imbau masyarakat untuk melakukan pemotongan di Rumah Potong Hewan (RPH) yang berada di Pesanggaran Denpasar.

Hal tersebut dikatakan Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kota Denpasar, Made Ngurah Sugiri saat dikonfirmasi Minggu (21/7/2019) siang.

"Masalah daging babi, sumber pemotongan secara adat sesuai peraturan perundangan yang berlaku masih diperbolehkan memotong di luar RPH, namun atas sepengetahuan dari Dinas Pertanian dalam hal pengawasan, pemeriksaan dan pemotongan babi termasuk. Namun meskipun demikian tetap kami imbau kalau bisa sebisa mungkin pemotongan babi untuk persiapan Galungan dilakukan di RPH Pesanggaran Kota Denpasar," kata Sugiri.

Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi penyakit yang bersifat zoonosis atau yang bisa menular ke manusia.

Adapun penyakit yang diantisipasi yakni streptoccocus atau meningitis babi yang pernah terjadi dua tahun lalu, sistiserkosis yang disebabkan cacing pita, serta japanese enchepalitis yang disebabkan oleh gigitan nyamuk melalui tubuh babi.

Oleh karena itu pihaknya juga meminta inisiatif dari warga yang akan memotong babi di luar RPH untuk melapor ke Dinas Pertanian, agar dilakukan pengecekan sebelum pemotongan maupun sesudah pemotongan babi.

"Sebetulnya kami harapkan masyarakat melapor, namun nampaknya sedikit yang menyadari hal itu, dan kebetulan sekarang ini orientasi masyarakat banyak yang membeli dalam bentuk daging daripada memotong karena repot perlu SDM khusus, sehingga mereka beli di pasar. Ini berbeda dengan di Badung, kalau di sana masih banyak," katanya.

Halaman
12
Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved