Liputan Khusus

Nasib Terminal Angkutan Umum di Denpasar Jadi Berwajah Pasar Senggol & Transportasi Umum Mati Suri

Hidup segan, mati pun tak mau. Begitulah kira-kira ungkapan yang bisa disematkan untuk nasib terminal-terminal angkutan umum di Denpasar

Nasib Terminal Angkutan Umum di Denpasar Jadi Berwajah Pasar Senggol & Transportasi Umum Mati Suri
Tribun Bali/I Wayan Erwin Widyaswara
Sejumlah pedagang menyiapkan lapak jualan mereka, Kamis (18/7/2019) lalu. Sejumlah terminal angkutan umum di kota Denpasar dan sekitarnya kini jadi mirip pasar Senggol, karena aktivitas naik-turun penumpang turun drastis. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Hidup segan, mati pun tak mau. Begitulah kira-kira ungkapan yang bisa disematkan untuk nasib terminal-terminal angkutan umum di Denpasar dan sekitarnya.

Minimnya minat masyarakat untuk menggunakan transportasi umum massal, khususnya angkutan kota (angkot) dan transarbagita, menyebabkan keberadaan angkutan umum massal jadi mati suri.

Kondisi tersebut berdampak pada nasib terminal-terminal di Denpasar dan sekitarnya.

Bahkan, Terminal Kreneng dan Terminal Batubulan sudah sulit dibedakan bagian mana yang terminal dan mana yang pasar senggol, karena seperti berbaur jadi satu.

Rabu (17/7) siang, puluhan pedagang senggol di Terminal Kreneng sudah mulai bersiap merangkai besi untuk tempat berjualan. Barang-barang jualan yang mereka letakkan di dalam rombong mulai dipasang.

Tak lebih dari sejam, para pedagang itu sudah selesai mengeluarkan barang jualan mereka. Posisi rombong antara pedagang satu dan lainnya saling berhimpitan. Seakan tak ada sela lagi untuk pedagang lain berjualan.

Meski lahan sebelah barat Pasar Kreneng ini adalah terminal, namun kenyataannya setiap hari lahan itu jadi mirip pasar senggol.

Tidak ada tanda yang menyolok bahwa kawasan tersebut adalah terminal, kecuali tulisan-tulisan agak lusuh yang tertempel di antara balok-balok beton penyangga bangunan terminal tersebut.

Ada satu papan nama yang terpasang di sisi barat terminal itu.

Informasi yang diterima dari sejumlah pedagang yang berjualan di lahan terminal itu, mereka rata-rata dipungut mulai dari uang parkir kendaraan, biaya penitipan gerobak atau rombong, karcis harian, uang lampu, dan uang bulanan untuk berjualan di sana.

Halaman
1234
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved