Belum Sentuh Desa-desa Pinggiran, Pelayanan Perpustakaan Keliling di Bangli Masih Terbatas

Layanan perpustakaan keliling di Kabupaten Bangli hingga kini masih terbatas di wilayah tertentu saja dan belum menyentuh desa-desa pinggiran.

Belum Sentuh Desa-desa Pinggiran, Pelayanan Perpustakaan Keliling di Bangli Masih Terbatas
Istimewa
Suasana layanan perpustakaan keliling di salah satu sekolah wilayah Kintamani, Bangli, Kamis (18/7/2019) 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Layanan perpustakaan keliling di Kabupaten Bangli hingga kini masih terbatas di wilayah tertentu saja.

Kendala akses jalan disebut-sebut menjadi alasan belum maksimalnya layanan ini, untuk dinikmati desa-desa pinggiran.

Pelaksana tugas (Plt) Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Bangli, I Nyoman Sumantra, Senin (22/7/2019) mengungkapkan secara umum kendaraan perpustakaan keliling masih beroperasi.

Untuk memberi pelayanan yang bertujuan meningkatkan minat baca ini, pihaknya menggunakan dua unit kendaraan roda empat.

Lanjut Sumantra, pelayanan perpustakaan keliling selama ini menyasar sekolah dan balai banjar di seluruh kecamatan.

Walau demikian, sasaran perpustakaan keliling hanya pada wilayah yang bisa, atau memungkinkan untuk dijangkau kendaraan roda empat.

“Artinya dari segi jalan masih bagus. Disamping itu ada permintaan ke desa-desa kampung KB. Jadi desa di pinggiran itu tetap kami layani, namun frekuensinya kecil,” katanya.

Diungkapkan Sumantra, selain akses jalan, yang juga menjadi kendala pelayanan yakni ketersediaan tenaga supir.

Sebab tenaga supir yang tersedia, kini telah menjadi tenaga fungsional. Kurangnya tenaga supir ini, akhirnya diakomodir oleh petugas lain agar pelayanan perpustakaan keliling tetap berjalan.

“Jadi yang saat ini menjadi supir, kapastias sebenarnya bukan seorang supir. Ini yang menyebabkan pelayanan perpustakaan keliling di desa pinggiran sangat kecil frekuensinya. Karena hanya supir asli yang tau celahnya, untuk menuju ke desa-desa pinggiran itu. Dilain sisi, jika melihat dari segi minat baca, sejatinya minat anak-anak disana cukup tinggi,” beber Sumantra.

Kendala lain yang juga tidak kalah penting yakni ketersediaan anggaran bahan bakar minyak (BBM) yang terbatas.

Akibatnya pelayanan yang dilakukan juga tidak bisa setiap hari, melainkan secara terjadwal dalam setahun. Pihaknya mengaku telah mengusulkan penambahan tenaga supir ini.

“Kami telah memohon pada pimpinan untuk penambahan tenaga supir di perpustakaan. Semoga secepatnya bisa terpenuhi. Termasuk kebutuhan BBMnya, sehingga pelayanan perpustakaan keliling bisa dilakukan lebih intensif. Baik pelayanan di sekolah dan balai banjar di wilayah kota, desa-desa pinggiran, maupun pelayanan di tempat keramaian saat berlangsungnya upacara adat,” harap pria asal Desa Siakin, Kintamani ini. (*)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved