RSJ Bali Bakal Punya Gedung Baru Senilai Rp 21 Miliar

Rumah sakit jiwa provinsi Bali (RSJP Bali) tengah membangun satu gedung baru.

RSJ Bali Bakal Punya Gedung Baru Senilai Rp 21 Miliar
Tribun Bali/Fredey Mercury
Para pekerja saat membangun gedung baru RSJP Bali. Selasa (23/7) 
TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Rumah sakit jiwa provinsi Bali (RSJP Bali) tengah membangun satu gedung baru.
Penambahan satu gedung baru ini, salah satu tujuannya sarana penunjang tempat rehabilitasi narkotika.
Dijelaskan oleh Direktur RSJP Bali, Dewa Gde Basudewa, gedung tersebut dibangun pada lahan seluas 1,2 hektare di lahan sebelah selatan RSJP Bali.
Ia juga mengatakan, pembangunan sarana penunjang ini telah sesuai standar tempat rehabilitasi, yang di desain oleh Badan Narkotika Nasional (BNN).
“Pembangunannya sudah dimulai dari tanggal 24 Juni lalu,” ujarnya Selasa (23/7/2019). 
Lanjut Basudewa, sejatinya RSJP Bali telah memiliki sarana penunjang rehabilitasi narkotika.
Namun demikian, tempat rehabilitasi sebelumnya cenderung menyerupai standar ruangan rawat inap, bagi pasien gangguan jiwa biasa.
Disamping itu, sarana penunjang sebelumnya juga lengkap dan belum sesuai standar yang diatur dalam UU No. 18 tahun 2014, tentang kesehatan jiwa.
Standar yang dimaksud dalam UU tersebut, tercantum pada pasal 54.
Dimana pada salah satu ayat, jelas Basudewa, menyebutkan rumah sakit jiwa harus menyiapkan sekurang-kurangnya 10 persen tempat tidurnya, untuk perawatan rehab narkotika.
“10 persen itu dari total jumlah bed yang tersedia. Jadi undang-undang mengharuskan kami menyiapkan standar tempat perawatan, yang sifatnya harus dibedakan antara laki-laki dan perempuan,” jelasnya. 
Mengenai total jumlah bed yang tesedia, Basudewa menyebut RSJP Bali memiliki total 400 unit tempat tidur.
Meskipun berdasarkan ketentuan UU tersebut tempat rehabilitasi setidaknya hanya butuh 40 unit, Basudewa justru menyiapkan tempat rehabilitasi sebanyak 60 unit bed. 
“Pada sarana penunjang sebelumnya kami berkewajiban memenuhi sebanyak 38 unit. Namun tidak bisa kami penuhi seluruhnya mengingat tenaga kami kurang. Jadi hanya 26 unit saja. Itulah yang sekarang kami kembangkan dengan pembangunan gedung baru ini,” ujarnya. 
Anggaran pembangunan gedung baru tersebut mencapai Rp. 21 miliar, dengan masa pengerjaan selama 6 bulan.
Seperti dikatakan sebelumnya, tempat rehabilitasi pada gedung baru nantinya ruangan akan dipisah, antara laki-laki dan perempuan.
Termasuk bagi lansia dan anak-anak. 
“Tempat rehab sesuai standar BNN ini, belum ada di Bali. Tempat seperti ini hanya ada di Bogor, Makasar dan Batam. Nantinya gedung baru ini akan memiliki tempat aktifitas bagi pasien rehab, untuk melakukan kegiatan-kegiatan terstruktur, sesuai standar yang kami miliki. Tujuannya untuk menunjang kegiatan rehabilitasi pasien,” ucapnya. 
Dijelaskan pula, 60 bed yang tersedia pada gedung baru nantinya dibagi sesuai tingkat kebutuhannya.
Berdasarkan data yang dimiliki, pasien rehabilitasi narkotika kebanyakan merupakan dewasa, dengan jenis kelamin laki-laki.
Basudewa juga mengatakan, terhitung sejak tahun 2015 hingga 2019, ada perubahan terhadap masyarakat yang melakukan rehabilitasi narkotika secara mandiri.
Jumlahnya pun diakui bertambah, jika dibandingkan dengan rehabilitasi rujukan atas putusan pengadilan. 
“Kalau dulu pada tahun 2015-2016 paling banyak rujukan berdasarkan putusan pengadilan. Namun sekarang sudah mulai berkurang. Justru yang lebih banyak pasien mandiri. Perbandingannya, jika dulu 4:1 dimana 4 merupakan kiriman dan 1 mandiri, sekarang terbalik menjadi 1:4. Artinya kesadaran dan keberanian dari penduduk untuk melakukan rehabilitasi mandiri sudah mulai tumbuh,” ungkapnya. 
Selain sebagai sarana penunjang rehabilitasi narkotika, pembangunan gedung senilai Rp 21 miliar itu juga digunakan untuk gedung lansia.
Yang mana, standar pembangunan gedung perawatan lansia atau geriatri sesuai Permenkes 79 tahun 2014.
“Geriatri ini untuk merawat pasien-pasien lanjut usia dengan gangguan mental. Misalnya gejala pikun (demensia) dengan penyakit fisik yang lain. Dulu kan tempatnya ruang sadewa, dan hanya berupa blok rawat inap saja. Kalau sekarang fasilitasnya lebih dilengkapi beragam fasilitas. Seperti tempat ngobrol sesama pasien, hingga tempat konseling,” tandasnya. (*)
Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Alfonsius Alfianus Nggubhu
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved