Tradisi Galungan Yang Masih Dipercaya Hingga Kini, Pergi Ke Arah Utara Saat Umanis

Ia mengatakan tradisi ini akan berbeda dengan tradisi orang di wilayah Bali utara seperti Buleleng, Karangasem, Jembrana

Tradisi Galungan Yang Masih Dipercaya Hingga Kini, Pergi Ke Arah Utara Saat Umanis
Tribun Bali / I Made Argawa
Pengunjung di DTW Ulun Danu Beratan saat Libur Galungan 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A.A. Gde Putu Wahyura

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Selepas pelaksanaan upacara keagamaan di Hari Raya Galungan, keesokan harinya, atau di hari Umanis Galungan biasanya masyarakat Bali akan menggelar kegiatan ramah-tamah, berkunjung ke rumah sanak saudara, dan juga berpergian bersama keluarga.

Tetapi ada hal unik dalam pelaksanaan di Hari Raya Umanis Galungan.

Di mana sebagian besar masyarakat Bali percaya, bepergian di Hari Raya Umanis Galungan hanya diperbolehkan menuju ke arah utara (ke arah Gunung) seperti Bedugul, Kintamani, dan daerah lainnya di bagian utara Bali.

Seperti yang dilakukan oleh pecinta vespa dari Peguyangan ini.

“Di hari Umanis Galungan ini kami turing ke Kintamani. Kami setiap Umanis Galungan memang turing, tetapi ke arah utara,” ujar Agung Dharma Yuda di Denpasar, Bali, Kamis (11/2/2015).

Ketika ditanyai kenapa melakukan perjalanan ke arah utara, ia pun mengatakan memang seperti itu adat dan budaya di Bali.

Ia pernah mengalami hal sial ketika berpergian ke arah selatan.

“Nak mule keto (memang begitu) kalau Galungan memang bepergian ke utara. Dahulu pernah ke selatan sama teman-teman pas Galungan ternyata di jalan ada teman kecelakaan. Makanya harus ke utara kalau bepergian,” terangnya.

Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, Prof IGN Sudiana, mengatakan di dalam ajaran agama Hindu tidak ada menyebutkan bahwa bepergian yang baik pada saat Hari Raya Umanis Galungan harus menuju ke arah utara.

Halaman
12
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved