Presiden Jokowi Minum Jamu Klasik Sejak Zaman Nenek Moyang, Begini Khasiatnya

Presiden Jokowi mengunggah video di akun Instagramnya tentang kebiasaannya minum jamu di pagi hari sebelum

Presiden Jokowi Minum Jamu Klasik Sejak Zaman Nenek Moyang, Begini Khasiatnya
Facebook Presiden Jokowi
Presiden Joko Widodo di Puncak Waringin, Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Timur 10 Juli 2019. 

Presiden Jokowi Minum Jamu Klasik Sejak Zaman Nenek Moyang, Begini Khasiatnya

TRIBUN-BALI.COM - Presiden Jokowi mengunggah video di akun Instagramnya tentang kebiasaannya minum jamu di pagi hari sebelum memulai aktivitas.

"Biasanya saya kalau pagi itu, sebelum beraktivitas, minum jamu. Jamu ini adalah jamu dari campuran temulawak, jahe, kunyit. Jadi jahe ditumbuk atau dirajang-rajang, temulawak ditumbuk dirajang-rajang. Kunyit juga kemudian diseduh air panas,disaring kemudian diminum," kata Jokowi dalam video tersebut.

Ia mengaku bahwa jamu memberi manfaat yang baik untuk kebugaran tubuh dan ia telah rutin minum jamu sejak 17-18 tahun lalu. Kebiasaan minum jamu sudah lama dilakukan oleh masyarakat di Nusantara.

Prof. Dr. Murdijati Gardjito, pakar kuliner Indonesia dan salah satu penulis buku Jamu Pusaka Penjaga Kesehatan Bangsa Asli Indonesia, saat dihubungi Kompas.com, Selasa (23/7/2019) mengatakan jamu sudah dikenal sejak abad ke-8.

Ramalan Zodiak Hari Ini Rabu 24 Juli 2019 : Gemini Butuh Tidur Nyenyak Hari Ini Stres Telah Menumpuk

Gadis Cantik Ini Tewas dalam Kondisi Setengah Tak Berbusana, Sang Ayah Ungkap Pesan Terakhir Ini

Dokumentasi tertua tentang jamu terdapat pada relief Candi Borobudur pada tahun 772 SM. Pada relief tersebut ada gambar orang yang sedang mengulek menggunakan cobek serta seorang tabib yang sedang mengobati dan memijat seseorang.

Selain itu banyak kitab-kitab yang berisi tentang obat-obatan tardisional seperti Serat Centhini serta beberapa lontar yang ada di beberapa wilayah Nusantara.

"Memang terbanyak di Jawa. Tapi jangan salah selain ada Jamu Jawa, ada Jamu Madura, Jamu Kalimantan,bahkan ada Jamu Papua. Jamu ini tersebar di seluruh Nusantara," jelasnya.

Di buku yang berjudul Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 1: Tanah di Bawah Angin yang ditulis oleh Anthony Reid dijelaskan bahwa buku obat-obatan yang berasal dari tradisi India diterjemahkan dan ditulis kembali di Jawa, Bali, Birma, Siam dan Kamboja.

Tapi perannya lebih besar dalam bidang agama dari pada sebagai pengetahuain eksperimental yang berkembang.

Halaman
1234
Editor: DionDBPutra
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved