Tiga Lokasi di Bali dengan Peristiwa Gempa Terparah, BMKG Ungkap Fakta Sejarah Kelam Ini

Gempa memiliki sejarah kelam bagi semua orang, termasuk juga di Bali. Terakhir, Bali kembali diguncang gempa berkekuatan 5,8 magnitudo

Tiga Lokasi di Bali dengan Peristiwa Gempa Terparah, BMKG Ungkap Fakta Sejarah Kelam Ini
Tribun Bali/I Made Ardhiangga Ismayana
(Ilustrasi) Puing kerusakan di Pura Puseh Mendoyo Dauh Tukad, Kecamatan Mendoyo Jembrana pasca gempa dinihari pada Kamis (11/10/2018) lalu. 

Gempa bumi ini menelan korban jiwa sebanyak 1500 orang, merusak 64 ribu rumah termasuk istana, 10 ribu lumbung beras dan 2431 pura, termasuk Pura Besakih.

Karena itu, Masyarakat Bali juga menjuluki tragedi musibah ini dengan nama "gejer Bali" yang artinya "Bali Berguncang".

Bahkan, berdasarkan catatan Soloviev and Go (1974), gempa bumi ini mampu memicu tsunami di Klngkung dan Benoa di Denpasar dengan tinggi mencapai dua meter.

Gempa berikutnya, juga pernah terjadi di wilayah Selatan Bali pada medio 2011 silam. 

Gempa yang melanda selatan Bali, Jawa, dan Lombok ini disebabkan oleh adanya lempeng Indo-Australia.

Gempa dari lempeng ini relatif energinya kecil namun tetap perlu kesiapsiagaan.

Contohnya, gempa yang terjadi pada tahun 2011 dengan kekuatan 6,8 magnitudo.

Episenter terletak di 143 km arah barat Nusa Dua ini juga dirasakan di Malang, Mataram bahkan hingga Yogyakarta.

Gempa terakhir juga melanda wilayah selatan Bali berpusat di Nusa Dua dengan kekuatan magnitudo 5,8 SR.

Gempa ini tergolong lebih aktif dan banyak mengeluarkan energi kecil.

''Seperti kemarin ada gempa 5,8. Di selatan Bali, Jawa, Lombok itu ada namanya lempeng Indo-Australia. Tiga ini yang membentuk tatanan tektonik dari Bali, ini tidak perlu kita khawatirkan tetapi kesiapsiagaan itu penting," jelasnya. (*)

Penulis: eurazmy
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved