Optimalisasi Hasil Pertanian Perlu Teknologi Budidaya, Urban Farming Solusi Bagi Petani Milenial

Masyarakat menganggap profesi sebagai petani masih sering diidentikkan dengan kondisi kekurangmampuan dan kemiskinan

Optimalisasi Hasil Pertanian Perlu Teknologi Budidaya, Urban Farming Solusi Bagi Petani Milenial
Tribun Bali/Wema Satyadinata
Pengamat pertanian sekaligus Rektor Universitas Dwijendra, Gede Sedana sedang mengenalkan urban farming dengan sistem hidroponik pada para petani milenial. Optimalisasi Hasil Pertanian Perlu Teknologi Budidaya, Urban Farming Solusi Bagi Petani Milenial 

Optimalisasi Hasil Pertanian Perlu Teknologi Budidaya, Urban Farming Solusi Bagi Petani Milenial

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Seiring dengan berkembang pesatnya pembangunan ekonomi khususnya di sektor pariwisata dan industri lainnya, minat generasi muda di pedesaan semakin menurun untuk menekuni sektor pertanian, khususnya di lahan sawah.  

Hal tersebut dikatakan pengamat pertanian sekaligus Rektor Universitas Dwijendra, Gede Sedana.

Lanjutnya, masyarakat menganggap profesi sebagai petani masih sering diidentikkan dengan kondisi kekurangmampuan dan kemiskinan. 

“Rendahnya minat generasi muda untuk menekuni sektor pertanian dapat dimaklumi karena pendapatan yang diterima dari usaha taninya masih relatif rendah, dan memiliki risiko gagal panen yang tinggi,” kata Sedana di Denpasar, Kamis (25/7/2019).

Disisi lain, kata dia, sumber daya alam (tanah dan air, red) serta keanekaragaman hayati sangat memungkinkan untuk digali dan digarap secara produktif guna memberikan manfaat ekonomis. 

Maka dari itu, semangat bertani yang produktif dan profesional perlu ditumbuhkan di kalangan generasi milenial.

“Kreativitas dan inovasi pertanian melalui teknologi budidaya yang tepat, yakni tepat lokasi, tepat waktu, tepat daya dan tepat pasar,” ujar Ketua HKTI Kabupaten Buleleng ini.

Robert Rene Alberts Nilai Absennya Pacheco Tak Kurangi Kekuatan Bali United

Ada Dua Sirene Peringatan Tsunami di Denpasar, Begini Kondisinya Saat Ini

Keempat indikator itu idealnya agar dapat diaplikasikan secara bersamaan guna memperoleh hasil maksimal, yaitu keuntungan ekonomis di tingkat petani.

Tepat lokasi yang dimaksudkan adalah ketersedian lokasi atau lahan yang memiliki kondisi agroklimat yang cocok untuk pengembangan komoditas tertentu, seperti stroberi, paprika, sayur hijau, cabe, tomat, jangung, dan tanaman lainnya. 

Halaman
1234
Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved