23 Hari Menjalani Perawatan di RSUP Sanglah, Begini Kondisi Bayi Kembar Siam Asal Buleleng

Bayi kembar siam asal Buleleng yang dirawat di RSUP Sanglah kini memasuki hari ke-23 perawatan

23 Hari Menjalani Perawatan di RSUP Sanglah, Begini Kondisi Bayi Kembar Siam Asal Buleleng
Humas RSUP Sanglah
Bayi kembar siam (dempet) yang sedang dirawat intensif di ruang cempaka 1 RSUP Sanglah. 23 Hari Menjalani Perawatan di RSUP Sanglah, Begini Kondisi Bayi Kembar Siam Asal Buleleng 

23 Hari Menjalani Perawatan di RSUP Sanglah, Begini Kondisi Bayi Kembar Siam Asal Buleleng

Laporan Wartawan Tribun Bali, M. Firdian Sani

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Bayi kembar siam asal Buleleng yang dirawat di RSUP Sanglah kini memasuki hari ke-23 perawatan.

Bayi dari pasangan Kadek Redita (24) dan Putu Ayu Sumadi (18) masih dalam kondisi stabilisasi seperti yang diungkapkan dr I Wayan Dharma Artana, Sp A (K) saat dietemui di ruang Humas RSUP Sanglah, Jumat (26/7/2019).

"Dalam waktu 23 hari kondisi bayi mulai stabil, dan masih dalam tahap stabilisasi. Artinya suhunya mulai normal, dan pernapasan mulai membaik. Jadi suhunya stabil terus selama ini, dan pernapasan mulai membaik kemudian gerak tangan, tangisnya sudah mulai normal," katanya.

Berat bayi mengalami peningkatan menjadi 4.470 gr. Kedua bayi juga sudah mendapat asupan ASI sebanyak 32 cc setiap 3 jam sekali. Bayi juga sudah tidak pakai infus lagi, namun perawatan masih berada di ruang isolasi dengan radian warmer.

Kenapa bayi masih ke dalam fase stabilisasi? Dharma Artana menambahkan, karena bayinya sekarang masih memakai oksigen walaupun kadar oksigen sudah mulai kita turun-turunkan. Bayi saat ini masih memerlukan terapi oksigen chest fisioterapi.

dr I Wayan Dharma Artana, Sp A (K) didampingi oleh dr Arya WS Duarsa dan Dewa Kresna di ruang Humas RSUP Sanglah, Denpasar, Bali, Jumat (26/7/2019).
dr I Wayan Dharma Artana, Sp A (K) didampingi oleh dr Arya WS Duarsa dan Dewa Kresna di ruang Humas RSUP Sanglah, Denpasar, Bali, Jumat (26/7/2019). (Tribun Bali/M Firdian Sani)

"Jadi dua-duanya masih pakai oksigen, kemudian sekarang kita tambah lagi namanya chest fisioterapi, jadi bayinya kita bantu dengan tim dari fisioterapi itu, untuk mobilisasi kalau ada hal-hal yang diperlukan guna mempercepat pemenuhan kebutuhan oksigennya si bayi. Karena bayi ini kan ada dua tidak seperti bayi tunggal biasanya," jelasnya.

Setelah nanti bayi berhasil melewati masa stabilisasi, maka selanjutnya direncanakan untuk pemeriksaan diagnostik lanjutan, seperti CT scan whole body (keseluruhan tubuh), dan CT Angiografi bila stabil. CT Angiografi dilakukan guna melihat detail-detail struktur yang ada di dalam organ bayi secara jelas.

"Jika dilihat dari pengmatan luar, jantungnya memang dua tapi dinding jantungnya yang menempel. Nah sekarang kita memastikan dengan city angeografi," tuturnya.

"Proses pemisahan masih jauh, karena sekarang masih proses stabilisasi, kemudian setelah ini kita optimalisasi sampai sudah lepas oksigen. Baru kita lakukan diagnosis lanjutan dengan scan full body, kemudian dengan CT angiografi, tapi itu nanti setelah bayi melewati masa stabilisasi karena pemeriksaan ini membutuhkan waktu yang lama," tambah Dharma Artana.

Diberitakan sebelumnya, bayi ini dilahirkan di rumah sakit Santhi Graha Seririt, dan langsung mendapat rujukan ke RSUD Buleleng dan dilanjutkan ke RSUP Sanglah, Denpasar, Bali pada Kamis (4/7/2019).

(*)

Penulis: M. Firdian Sani
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved