Peristiwa Kerusuhan Berdarah 'Kudatuli' 1996, Kisah Pendukung Setia Megawati & Sosok Soerjadi

Meski 15 Tahun telah berlalu, namun bagi sebagian pendukung setia Megawati Soekarnoputri barangkali tak akan lupa dengan peristiwa berdarah 'Sabtu

Peristiwa Kerusuhan Berdarah 'Kudatuli' 1996, Kisah Pendukung Setia Megawati & Sosok Soerjadi
KOMPAS/LUCKY PRANSISKA
Keluarga korban tragedi 27 Juli bersama massa dari Forum Komunikasi Kerukunan 124, Rabu (27/7/2011), mendatangi bekas kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro 58, Jakarta, untuk memperingati 15 tahun peristiwa tersebut. Mereka mendesak Presiden menyelesaikan berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia, termasuk tragedi 27 Juli 1996. 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA — Meski 15 Tahun telah berlalu, namun bagi sebagian pendukung setia Megawati Soekarnoputri barangkali tak akan lupa dengan peristiwa berdarah 'Sabtu Kelabu, 27 Juli 1996 atau Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli). 

Peristiwa rusuh yang terjadi di Kantor DPP PDI, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat menjadi catatan pahit bagi para pendukung setia Megawati yang berusaha mempertahankan kantornya dari pengambilalihan paksa oleh sejumlah massa pro Soerjadi. 

Melansir via Kompas.com, Sabtu pagi, 27 Juli 1996. Pada hari itu terjadi peristiwa "Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli" atau Kudatuli di Kantor DPP PDI, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.

Kala itu terjadi pengambilalihan paksa Kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jakarta Pusat oleh massa pendukung Soerjadi.

Kejadian ini ditengarai karena tidak terimanya kelompok pendukung Soerjadi (PDI Kongres Medan) dengan keputusan Kongres Jakarta yang memenangkan Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umum.

Harian Kompas, 23 Juli 1993, memberitakan, Soerjadi secara aklamasi terpilih menjadi Ketua Umum PDI sekaligus menjadi ketua formatur penyusunan komposisi DPP.

Namun, Soerjadi disebut terlibat dalam penculikan kader sehingga PDI mengadakan Kongres Luar Biasa (KLB) di Surabaya.

Dalam kongres itu, Megawati dinyatakan sebagai Ketua Umum PDI.

Selanjutnya diadakan Musyawarah Nasional (Munas) di Jakarta pada 22 Desember 1993 yang akhirnya menetapkan Megawati sebagai ketua umum untuk kepengurusan 1993-1998.

Adapun Soerjadi terpilih berdasarkan hasil Kongres Medan pada 22 Juni 1996 untuk periode 1996-1998.

Halaman
1234
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved