Hong Kong Kembali Memanas, Dari Penolakan RUU Ekstradisi Menjadi Tuntutan Reformasi Birokrasi

Menurut saksi mata, pasukan anti-huru hara yang disebut sebagai regu "Raptor" menahan sejumlah pengunjuk rasa

Hong Kong Kembali Memanas, Dari Penolakan RUU Ekstradisi Menjadi Tuntutan Reformasi Birokrasi
(AFP / ANTHONY WALLACE) via Kompas.com
Massa pengunjuk rasa berhadap-hadapan dengan pasukan polisi anti-huru hara saat bentrokan di Hong Kong, Minggu (28/7/2019) 

TRIBUN-BALI.COM, HONGKONG - Aksi demonstrasi menentang pemerintah Hong Kong kembali ricuh, Minggu (28/7/2019), dengan polisi anti-huru hara menembakkan peluru karet dan gas air mata ke arah massa pengunjuk rasa.

Ini menjadi bentrokan yang terjadi selama dua hari berturut-turut setelah sebelumnya terjadi saat aksi protes di kawasan pinggiran Yuen Long, utara Hong Kong, pada Sabtu (27/7/2019).

Polisi menembakkan peluru karet dan gas air mata untuk membubarkan massa pengunjuk rasa pro-demokrasi yang menggelar aksinya di dekat kantor Beijing di Hong Kong.

Kelompok massa dengan sekitar 200 orang itu berjalan menuju Kantor Penghubung Beijing di distrik Sheung Wan, di mana para pengunjuk rasa telah dicegat oleh polisi anti-huru hara.

Polisi yang menyebut aksi tersebut ilegal, karena telah mengeluarkan larangan, menyerukan kepada pengunjuk rasa untuk membubarkan diri.

Namun massa menolak membubarkan diri dan memaksa polisi mengambil tindakan tegas dengan menembakkan peluru karet dan gas air mata ke arah pengunjuk rasa.

Massa demonstran pun merespons dengan melempar batu ke arah polisi anti-huru hara.

Massa pengunjuk rasa yang lebih besar juga dilaporkan berkumpul di distrik Causeway Bay, di mana mereka membangun barikade dan mengambil alih jalan utama, dengan kehadiran polisi yang lebih sedikit.

Menurut saksi mata, pasukan anti-huru hara yang disebut sebagai regu "Raptor" menahan sejumlah pengunjuk rasa, dengan beberapa lainnya mengalami luka, termasuk dua orang wartawan.

Aksi demonstrasi berakhir sekitar pukul 23.30 malam, setelah para pengunjuk rasa secara terkoordinasi bergegas mundur ke stasiun kereta bawah tanah terdekat.

Halaman
12
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved