Serba Serbi

Mengembalikan Bhuta Galungan Saat Pemacekan Agung, Ini Persembahan yang Dihaturkan

Lima hari setelah Hari Raya Galungan atau lima hari sebelum Hari Raya Kuningan disebut dengan Pemacekan Agung.

Mengembalikan Bhuta Galungan Saat Pemacekan Agung, Ini Persembahan yang Dihaturkan
Tribun Bali/Rizal Fanany
Umat Hindu melaksanakan persembahyangan Hari Raya Kuningan di Pura Sakenan, Denpasar, Sabtu (5/1/2019). Hari Raya Kuningan merupakan rangkaian dari Hari Raya Galungan yaitu perayaan kemenangan "Dharma" (kebenaran) melawan "Adharma" (kejahatan) yang diperingati dengan melakukan persembahyangan bersama di setiap pura di Bali. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Lima hari setelah Hari Raya Galungan atau lima hari sebelum Hari Raya Kuningan disebut dengan Pemacekan Agung.

Pemacekan Agung diperingati setiap Soma (Senin) Kliwon wuku Kuningan yang pada kesempatan ini jatuh pada Senin (29/7/2019).

Saat Pemacekan Agung ini merupakan pemujaan terhadap Sang Hyang Widi dengan manifestasinya sebagai Sang Hyang Parameswara dengan jalan menghaturkan upakara untuk memohon keselamatan.

Dalam Lontar Sundarigama terkait Pemacekan Agung ini disebutkan:

Soma Kliwon, pemancekan agung ngaran, masegeh agung ring dengen, mesambleh ayam samalulung, pakenania. Ngunduraken sarwa buta kabeh.

Artinya yaitu:

Soma Kliwon (Kuningan) disebut dengan Pemacekan Agung.

Pada sore harinya, umat Hindu patut mempersembahkan segehan agung di depan pintu keluar rumah yang dilengkapi sambleh ayam semalulung yang disuguhkan kepada Sang Bhuta Galungan beserta pengiringnya agar kembali ke tempatnya.

Selain itu di dalam teks lontar Dharma Kahuripan disebutkan:

Pamacekan Agung nga, panincepan ikang angga sarira maka sadhanang tapasya ring Sanghyang Dharma.

Halaman
12
Penulis: Putu Supartika
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved