Dharma Wacana

Pencurian Buah Sanggah Penjor, Begini Pandangan Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda

Setiap umat Hindu di Bali melaksanakan Hari Suci Galungan, di sejumlah desa selalu saja terjadi pencurian buah-buahan di sanggah penjor.

Pencurian Buah Sanggah Penjor, Begini Pandangan Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda
TRIBUN BALI
Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda 

Oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda

TRIBUN-BALI.COM -- Setiap umat Hindu di Bali melaksanakan Hari Suci Galungan, di sejumlah desa selalu saja terjadi pencurian buah-buahan di sanggah penjor.

Pencurian ini terjadi setelah buah tersebut “diayab” atau dipersembahkan pada Ida Sang Hyang Widhi.

Lalu, apakah pencurian buah ini dikategorikan pelecehan terhadap simbol agama?

Atau justru sebaliknya buah yang dicuri lalu dinikmati oleh orang lain, secara tidak langsung orang yang kehilangan itu telah bersedekah pada orang yang membutuhkan?

Kita sudah dari awal mendapatkan suatu dampak, ketika di dalam praktik beragama kita banyak menggunakan material, baik itu digunakan sebagai simbol agama atau sebuah persembahan.

Dengan demikian, maka jelas saat kita mengatakan, ketika ada proses materialisasi terhadap spirit dan ide maupun nilai ketuhanan, dia selalu mengandung kutub dualisme atau dualita. Kadang dia berdampak positif di satu sisi, dia juga berdampak negatif.

Sekarang, salah satu contoh misalnya pencurian buah di sanggah penjor.

Melihat kondisi buah-buahan sebagai salah satu bentuk persembahan yang kita taruh di penjor sebagai sebuah banten, diambil oleh orang luar, apakah itu pelecehan?

Jika pencuri itu adalah orang yang mengetahui tujuan buah-buahan itu adalah persembahan untuk Tuhan, bisa kita katakan sebagai sebuah pelecehan.

Halaman
12
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved