Imigrasi Singaraja Deportasi 19 WNA, Satu Diantaranya Menikah Semu dengan Pria Karangasem

Sejak Januari hingga Juli 2019 ini, sebanyak 19 warga negara asing (WNA) dideportasi oleh pihak Imigrasi Singaraja.

Imigrasi Singaraja Deportasi 19 WNA, Satu Diantaranya Menikah Semu dengan Pria Karangasem
Tribun Bali/ Istimewa
Ilustrasi Deportasi 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Sejak Januari hingga Juli 2019 ini, sebanyak 19 warga negara asing (WNA) dideportasi oleh pihak Imigrasi Singaraja.

Mereka dikembalikan ke negara asalnya lantaran melakukan pelanggaran administasi keimigrasian, serta penyalahgunaan izin tinggal yang tidak sesuai dengan peruntukan.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja, Gusti Agung Komang Artawan, didampingi Kepala Seksi Intelejen dan Penindakan (Inteldak) Keimigrasian, Thomas Aris Munandar saat ditemui Senin (29/7/2019) mengatakan, 19 WNA yang dideportasi itu tersebar di Buleleng, Karangasem dan Jembrana.

Mereka masing-masing berasal dari Malaysia, Jerman, Swiss, Australia, Republik Ceko, Belanda, Tiongkok dan Prancis.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja, Gusti Agung Komang Artawan, didampingi Kepala Seksi Intelejen dan Penindakan (Inteldak) Keimigrasian, Thomas Aris Munandar, Senin (29/7/2019). Pihak Imigrasi Singaraja telah mendeportasi sebanyak 19 WNA sejak Januari hingga Juli 2019.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja, Gusti Agung Komang Artawan, didampingi Kepala Seksi Intelejen dan Penindakan (Inteldak) Keimigrasian, Thomas Aris Munandar, Senin (29/7/2019). Pihak Imigrasi Singaraja telah mendeportasi sebanyak 19 WNA sejak Januari hingga Juli 2019. (Tribun Bali/Ratu Ayu)

Terkahir, tindakan deportasi sebut Artawan dilakukan sekitar seminggu yang lalu. Seorang WNA asal Swiss yang ada di Karangasem, dideportasi lantaran melakukan kawin campur namun semu, hanya untuk mendapatkan status perkawinan.

Ini dilakukan agar izin tinggal imigrasi sang WNA dapat lebih lama.

"Dia menikah dengan pria asal Karangasem hanya untuk mendapatkan status saja. Statusnya kawin, namun rupanya tinggal berjauhan. Pria Karangasem itu digaji sebulan satu juta oleh WNA ini. Akhirnya dia kami deportasi," jelasnya.

Kedepan, sambung Gusti Artawan, pihaknya akan lebih memperketat pengawasan orang asing yang berada di wilayah kerja Kantor Imigrasi Singaraja, dengan melibatkan Tim Pengawasan Orang Asing (Timpora) yang telah dibentuk maupun melibatkan instansi terkait.

"Kalau dari Imigrasi pengawasan agak sulit, kami harap ada kerjasama dengan instansi terkait. Intinya, pengawasan WNA tidak mutlak Imigrasi saja, semua pihak juga harus ikut mengawasi sesuai dengan fungsinya masing-masing. Perlu ada sinergitas dari semua instansi," pungkasnya. (*)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved