Di Pengadilan, Kuasa Hukum 2 Bule Terduga Rampok Money Changer Ungkap Hal Ini

Di hadapan majelis hakim pimpinan Sri Wahyuni Ariningsih, tim penasihat hukum para terdakwa dalam nota eksepsinya menyampaikan tiga poin keberatan ata

Di Pengadilan, Kuasa Hukum 2 Bule Terduga Rampok Money Changer Ungkap Hal Ini
TRIBUN BALI/PUTU CANDRA
Georgii Zhukov dan Robert Haupt saat menjalani sidang di PN Denpasar. 

Selain itu, dikatakan tim penasihat hukum, di surat dakwaan tim jaksa terdapat kekeliruan.

Karena sampai saat ini para terdakwa tetap menyangkal melakukan tindak pidana yang didakwakan tim jaksa.

Lebih lanjut, para penasihat hukum mempertanyakan kewenangan tim jaksa dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Denpasar.

Padahal tempat kejadian (Locus delicty) berada di wilayah Kuta Selatan Badung.

Dimana secara hukum yang berwenang menangani adalah jaksa dari Kejari Badung.

"Sudah sepatutnya majelis hakim menyatakan dakwaan JPU tidak dapat diterima," kata Sutarmayasa.

Ditanya terkait bukti-bukti yang dapat menguatkan keberatan pihaknya, Sutarmayasa berdalih bahwa kliennya bukan sebagai pelaku kejahatan seperti yang dituduhkan.

"Klien saya tidak pernah menandatangi BAP, dan saat ditangkap mereka tidak ada di TKP. Terkait siapa pelakunya, saya tidak tahu," terangnya ditemui usai sidang.

Pihak menyatakan, berdasarkan cerita yang disampaikan kedua terdakwa, bahwa pada saat penangkapan dan pengeledahan di kediaman kliennya, pihak kepolisian tidak menyertakan surat bukti pengeledahan.

"Di berita acara pengeledahan tidak ada ditemukan uang, tapi setelah penyitaan dari Robert ditemukan sebuah tas berisi uang padahal Robert baru ada waktu pengeledahan di kamar Aleksi. Menurut Robert, uang yang dia lihat di dalam tas saat penyitaan masih penuh. Namun saat konfrensi pers uang itu menyusut sampai 70 persen," ungkap Sutarmayasa.

Halaman
123
Penulis: Putu Candra
Editor: Rizki Laelani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved