Manajer Pabrik Bantah Isu Gangguan Kesehatan: Kami Olah Limbah Lalu Kirim ke Korea Selatan

Ia menilai, aktivitas pabriknya tidak mencemari lingkungan. Namun justru membantu mengolah limbah agar bernilai ekonomis

Manajer Pabrik Bantah Isu Gangguan Kesehatan: Kami Olah Limbah Lalu Kirim ke Korea Selatan
Tribun Bali/I Made Ardhiangga
KHAWATIR - Kondisi pabrik sabut kelapa dikeluhkan oleh warga Pengambengan, Kecamatan Negara, Minggu (28/7/2019). Manajer Pabrik Bantah Isu Gangguan Kesehatan: Kami Olah Limbah Lalu Kirim ke Korea Selatan 

Manajer Pabrik Bantah Isu Gangguan Kesehatan: Kami Olah Limbah Lalu Kirim ke Korea Selatan

TRIBUN-BALI.COM, JEMBRANA - Manajer Operasional PT Hidup Jaya, H Farhan menampik tudingan oknum warga Pengambengan, Kecamatan Negara, Jembrana, Bali, yang menyebutkan keberadaan pabrik menimbulkan bau menyengat dan gangguan kesehatan.

Farhan mengatakan, pabrik itu merupakan pabrik olah limbah serbuk kayu, bukan pabrik sabut kelapa. Pabrik tersebut juga mengurus izin perusahaan dengan NIB 9120009590174.

Ia menilai, aktivitas pabriknya tidak mencemari lingkungan. Namun justru membantu mengolah limbah agar bernilai ekonomis.

"Kalau kotoran gergaji dibuang ke tempat kami, bisa kami pres dan kirim. Jadi kami ini malah mengolah limbah dan kami kirim ke luar negeri. Kami ini malah membantu pemerintah," ucap Farhan, Selasa (30/7/2019). 

Penelusuran Tribun Bali kemarin, tidak ada bau maupun asap. Farhan membantah keterangan oknum warga yang menyebut pabrik menimbulkan bau menyengat yang berpotensi menganggu aktivitas di puskesmas terdekat.

"Kok sampai bau menyengat. Kami belum beroperasi. Izin efektif itu pun baru Mei lalu," kata dia.

Sedangkan Karang Taruna (Kartar) Desa Pengambengan menanggapi adanya keluhan oknum warga yang menyebut pabrik di sebelah puskesmas tersebut bisa menganggu kesehatan warga.

Ketua Kartar Pengambengan, Agus Budiono mengatakan, sejatinya pabrik itu adalah pabrik yang mengolah serabut kayu yang nantinya dikemas dan dikirim ke Korea Selatan.

Keberadaan pabrik berkaitan dengan pembukaan lapangan kerja. Sebab wilayah Pengambengan akan diprioritaskan menjadi wilayah industri.

"Kami generasi muda pada khususnya mendukung dengan adanya putra desa yang mampu menciptakan lapangan kerja dan mampu mengurangi angka pengangguran di desa kami," ucapnya melalui pesan WhastApp.

Diberitakan sebelumnya, seorang warga Pengambengan yang namanya enggan disebut mengeluhkan keberadaan pabrik di samping, atau bersebelahan dengan puskesmas. Dikatakannya, warga khawatir keberadaan pabrik berdampak pada kesehatan.

Berdasarkan penuturan warga itu, keberadaan pabrik yang berada di sisi timur Jalan Raya Pengambengan tersebut aktivitasnya dinilai menganggu.

Disebutkan, pabrik bergerak di sektor sabut kelapa yang akan menimbulkan asap dan bau menyengat. Ia pun mempertanyakan mengapa pabrik tersebut bisa berdiri di sampung puskesmas. (*)

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved