Sudah Punah, 10 Kesenian Adat di Karangasem Akan Dihidupkan Kembali, 'Waiting list'

Waiting list (daftar tunggu) kesenian yang akan direkonstruksi banyak. Dinas Kebudayaan akan berupaya merekontstruksi satu persatu demi pelestarian ke

Sudah Punah, 10 Kesenian Adat di Karangasem Akan Dihidupkan Kembali, 'Waiting list'
TRIBUN BALI/SAIFUL ROHIM
Kepala Dinas Kebudayaan Karangasem, Putu Arnawa 

Sudah Punah, 10 Kesenian Adat di Karangasem Akan Dihidupkan Kembali, 'Waiting list'

TRIBUN-BALI.COM, KARANGASEM - Saat ini di Kabupaten Karangasem, Bali, ada 10 rekonstruksi kesenian (menghidupkan kembali kesenian yang sudah punah) yang dilakukan desa adat.

Ke-10-nya tersebar di delapan kecamatan di Karangasem, dan belum digarap pemerintah daerah.

Kepala Dinas Kebudayaan Karangasem, Putu Arnawa menjelaskan, dari 10 desa adat yang mengusulkan rekonstruksi kesenian, di antaranya Desa Subagan, Kecamatan Karangasem dengan tarian topeng wongnya.

Tarian Seraman di Bukit, Kecamatan Karangasem, serta tarian berbaris.

"Waiting list (daftar tunggu) kesenian yang akan direkonstruksi banyak. Dinas Kebudayaan akan berupaya merekontstruksi satu persatu demi pelestarian kesenian," kata I Putu Arnawa, kmarin (31/7/2019).

Ketua KSU di Singapadu Jadi Buruan Nasabah, Pengacara Sebut Kerugian Capai Rp 10 Miliar

Untuk tahun 2019, kata Arnawa, Dinas Kebudayaan Karangasem merekonstruksi satu kesenian hampir punah di Karangasem, yakni Tarian Rejang Lilit di Desa Purwayu, Kecamatan Abang.

Tarian ini biasanya dipentaskan saat mengelar upacara besar dan sakral di Adat Purwayu.

Rata-rata penari rejang lilit sudah lanjut usia, dan harus diregenerasi oleh yang lebih muda.

Jumlah penari diperkirakan 25 orang. Peminat tarian ini juga langka.

"Tarian ini rencana dipentaskan 5 Agustus mendatang di Purwayu. Semoga proses berjalan lancar," harap Arnawa.

Ditambahkan, rekonstruksi tarian rejang lilit memakai anggaran APBD Induk 2018, yang mencapai Rp 35 juta.

Digunakan untuk pelatihan, konsumsi pelatih dan penari, dan administrasi.

Pelatihan tarian membutuhkn waktu hingga satu bulan lebih, agar penari bisa menghayatinya. (*)

Penulis: Saiful Rohim
Editor: Rizki Laelani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved