Berawal dari Coba-coba, Ternyata Jagung Gembal Tumbuh Subur di Desa Tembok Buleleng

Aparat pemerintah Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng saat ini mulai membudidayakan shorgum, atau yang biasa disebut dengan jagung gembal

Berawal dari Coba-coba, Ternyata Jagung Gembal Tumbuh Subur di Desa Tembok Buleleng
Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Perbekel Desa Tembok, Dewa Komang Yudi Sastra menunjukkan jagung gembal yang berhasil dibudidayakan di desa setempat, Rabu (31/7/2019). Berawal dari Coba-coba, Ternyata Jagung Gembal Tumbuh Subur di Desa Tembok Buleleng 

Berawal dari Coba-coba, Ternyata Jagung Gembal Tumbuh Subur di Desa Tembok Buleleng

TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Aparat pemerintah Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng saat ini mulai membudidayakan shorgum, atau yang biasa disebut dengan jagung gembal.

Jagung yang memiliki kaitan sejarah berdirinya kota Singaraja ini sebelumnya sangat jarang dibudidayakan di Buleleng, bahkan nyaris punah.

Perbekel Desa Tembok, Dewa Komang Yudi Sastra ditemui Rabu (31/7/2019) mengatakan, jagung gembal mulai dibudidayakan pihaknya sejak tiga bulan yang lalu. Bibitnya dibeli melalui toko online seharga Rp 25 ribu per kilogramnya.

Pembudidayaan jagung gembal ini diakui Sastra berawal dari coba-coba.

Tak disangka, setelah bibit ditanam di areal perkebunan seluas setengah are, jagung gembal tumbuh dengan subur.

"Awalnya hanya coba-coba. Hanya ingin tau cocok nggak ditanam di Desa Tembok. Ternyata cocok, bahkan tumbuh dengan subur. Padahal jarang diberi nutrisi seperti air dan pupuk," terangnya Sastra.

Mengingat jagung berbentuk unik ini dapat tumbuh dengan subur di wilayah Desa Tembok, maka ke depan pembudidayaannya sebut Sastra akan lebih diseriuskan dan diperbanyak lagi. 

"Percobaan pertama buahnya sudah kami panen. Ke depan akan kami tanam lagi dengan skala yang lebih serius," ucapnya.

Menurut informasi yang didapatkan, sebut Sastra, protein yang terkandung di dalam jagung gembal lebih tinggi daripada nasi. Pun tumbuhan ini sangat baik untuk penderita deabetes.

Namun sayang, aparat desa setempat masih terkendala terkait cara pengelolaanya.

"Sejauh ini baru diolah menjadi nasi jagung. Diolah menjadi tepung lalu dibuat kue mungkin sangat bisa, namun informasi cara pengelolaannya kami belum tahu. Sekarang masih belajar menanam, sembil mencari peluang pasarnya," tuturnya.

(*)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved