Pecalang Istri Ikut Amankan Prosesi Upakara Pura, Terobosan Baru di Pura Luhur Batukau

Mereka ditugaskan khusus untuk menertibkan dan membina para pemedek yang berpakaian tak sopan saat nangkil ke Pura Luhur Batukau

Pecalang Istri Ikut Amankan Prosesi Upakara Pura, Terobosan Baru di Pura Luhur Batukau
Tribun Bali/I Wayan Erwin Widyaswara
PERTAMA KALI - Tim pecalang perempuan di Pura Luhur Batukau berfoto bersama seusai melaksanakan tugas pembinaan kepada para pemedek, yang dinilai kurang memenuhi etika dalam berbusana adat ke pura. Pecalang Istri Ikut Amankan Prosesi Upakara Pura, Terobosan Baru di Pura Luhur Batukau 

Pecalang Istri Ikut Amankan Prosesi Upakara Pura, Terobosan Baru di Pura Luhur Batukau 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Mendengar kata pecalang biasanya pikiran kita langsung tertuju pada seorang pria berpakaian adat, dengan saput dan udeng poleng.

Tapi tidak di Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Tabanan. Pecalang di desa ini tak hanya laki-laki atau lanang. Ada juga pecalang istri.

Keberadaan pecalang perempuan ini bisa dikatakan sebagai pertama kali di Bali. Mereka ditugaskan khusus untuk menertibkan dan membina para pemedek yang berpakaian tak sopan saat nangkil ke Pura Luhur Batukau (sebelumnya bernama Batukaru).

Minggu (28/7/2019) pagi sekitar pukul 08.00 Wita, suasana cerah menyelimuti kawasan Pura Luhur Batukau. Satu persatu pemedek yang datang dari berbagai wilayah di Bali mulai berdatangan.

Ada pemandangan yang tak biasa terlihat di kawasan pemedalan atau pintu-pintu masuk pura tersebut. Di masing-masing pintu masuk pura sad kahyangan ini berdiri dua orang perempuan dengan busana adat poleng.

Mereka adalah pecalang istri yang khusus bertugas di pura tersebut untuk mengarahkan dan membina pemedek istri yang tangkil ke pura ini. Setiap pemedek istri yang datang dengan busana tak etis mereka tegur dengan bahasa sopan, yang diawali dengan kata “om swastyastu” sambil melemparkan senyum sapa.

“Pemedek istri yang berpakaian nyentrik, misalnya kalau rambutnya panjang tidak diikat, kami ingatkan agar besok-besok kalau sembahyang ke sini biar diikat. Juga terutama yang pakai kamen jadi berisi belahan sampai di paha, trus pakai kebaya setengah lengan, itu kami bina biar mereka lebih sopan kalau sembahyang ke pura,” kata Koordinator Pecalang Istri Pura Luhur Batukau, Ni Ketut Pariati.

Kerja Keras Demi Tiga Poin! Bali United Tanpa Gelandang Serang, PSM Makassar Berani Ambil Risiko

Koster Bakal Angkat Tenaga Kontrak, Beri Kesempatan Lulusan ISI Bina Kesenian di Tiap Desa Adat

Para pemedek yang sempat ditegur pun terlihat tak tersinggung. Mereka justru membalas imbauan pecalang istri itu dengan senyum balik sambil mengucapkan kata “Matur Suksma sampun diingatkan.”

Meski ada satu-dua pemedek yang berpakaian tak sesuai etika berbusana adat Bali untuk ke pura, namun waktu itu Pariati dan pecalang istri lainnya tetap mengizinkan pemedek itu masuk untuk bersembahyang.

“Kami cuma mengimbau saja. Besok-besok kalau nangkil lagi ke pura agar berpakaian yang lebih sopan. Kami beritahu dengan sangat pelan-pelan,” ujar Pariati.

Halaman
12
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved