Kalau Bisa Semua Desa Adat Bentuk Pecalang Istri, Ketua PHDI Apresiasi Terobosan Pura Luhur Batukau

Ketua PHDI Bali berharap seluruh desa adat bisa membentuk pecalang istri untuk melaksanakan tugas-tugas yang berkaitan dengan adat dan keagamaan

Kalau Bisa Semua Desa Adat Bentuk Pecalang Istri, Ketua PHDI Apresiasi Terobosan Pura Luhur Batukau
Tribun Bali/I Wayan Erwin Widyaswara
PERTAMA KALI - Tim pecalang perempuan di Pura Luhur Batukau berfoto bersama seusai melaksanakan tugas pembinaan kepada para pemedek, yang dinilai kurang memenuhi etika dalam berbusana adat ke pura. Kalau Bisa Semua Desa Adat Bentuk Pecalang Istri, Ketua PHDI Apresiasi Terobosan Pura Luhur Batukau 

Kalau Bisa Semua Desa Adat Bentuk Pecalang Istri, Ketua PHDI Apresiasi Terobosan Pura Luhur Batukau

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali Prof Dr I Gusti Ngurah Sudiana menilai positif upaya para pengempon Pura Luhur Batukau yang telah membentuk pecalang istri.

Ia berharap seluruh desa adat di Bali bisa membentuk pecalang istri untuk melaksanakan tugas-tugas yang berkaitan dengan adat dan keagamaan di Bali.

"Kalau dari teks aturan keagamaan itu tidak masalah. Justru ini positif dan harus ditiru oleh krama adat lainnya. Hanya saja jangan sampai keluar dari pakem. Misalnya kalau pecalang istri disuruh ngurus parkir dan mindahkan kendaraan itu kan tidak pantas. Sepanjang tugasnya sesuai dengan peran perempuan itu positif sekali," kata Sudiana, Kamis (1/8/2019).

Seperti diberitakan, para pengempon Pura Luhur Batukau telah membentuk pecalang istri yang saat ini masih beranggotakan 17 orang.

Mereka direkrut dari masing-masing desa yang menjadi pengempon atau penyungsung Pura Luhur Batukau.

Tugas para pecalang istri ini untuk memberitahu dan membina para pemedek istri yang berpenampilan tidak sopan saat bersembahyang ke Pura Luhur Batukau.

Suzuki All New Ertiga dan New Carry Pick Up Dulang Penjualan Positif di GIIAS 2019

Kalabahu 7 LBH Bali Sebagai Upaya Penguatan Organisasi dan Kaderisasi Pengabdi Bantuan Hukum di Bali

Sebab, pihak pengempon Pura Luhur Batukau menilai tata cara krama Bali dalam berbusana adat ke pura sudah mulai melenceng dari pakem yang ada.

Misalnya, mereka menggunakan kebaya lengan pendek, rambut panjang yang tidak diikat, kemudian menggunakan kamen yang berisi belahan sampai ke paha.

Menurut Sudiana, memang sebelumnya tata cara krama istri dalam berpakaian adat Bali sudah mulai keluar dari pakem. Namun ia mengklaim sekarang hal itu sudah mulai ditinggalkan.

Krama Bali khusus yang perempuan sudah mulai tahu tempat dan kondisi dalam berpakaian adat.

Halaman
12
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved