'Kode' Ini Dipakai Ekstrimis, Penembak Massal El Paso Sepaham dengan Pelaku di Masjid Selandia Baru

Pernyataan itu juga menyatakan dukungan untuk pria bersenjata yang membunuh 51 orang di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru.

'Kode' Ini Dipakai Ekstrimis, Penembak Massal El Paso Sepaham dengan Pelaku di Masjid Selandia Baru
reuters
Tentara berjaga di lokasi penembakkan massal di El Paso, Texas, pada Sabtu (4/8/2019), yang menewaskan 20 orang dan melukai puluhan lainnya. 

'Kode' Ini Dipakai Ekstrimis, Penembak Massal di El Paso Sepaham dengan Pelaku di Masjid Selandia Baru

TRIBUN-BALI.COM - Tersangka pelaku penembakkan massal di sebuah Walmart di El Paso, Texas, pada Sabtu (4/8/2019), menewaskan 20 orang dan melukai puluhan lainnya.

Tersangka menyebut jika serangan tersebut sebagai "reaksi terhadap invasi Hispanik di Texas".

Kutipan itu terdapat dalam pernyataan empat halaman yang diunggah di 8chan, sebuah situs pesan daring yang sering digunakan para ekstremis, dan diyakini telah ditulis oleh tersangka.

Pernyataan itu juga menyatakan dukungan untuk pria bersenjata yang membunuh 51 orang di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru.

Kepala polisi El Paso Greg Allen mengatakan pihak berwenang sedang memeriksa sebuah manifesto dari tersangka yang menunjukkan "ada potensi nexus kejahatan rasial."

Para pejabat menolak untuk menguraikan lebih lanjut dan mengatakan penyelidikan masih berlanjut.

Ini Identitas Penembakkan Massal di Texas, Menyerahkan Diri Setelah Mengamuk dalam Gedung

3.000 Orang Dalam Satu Gedung di Texas Jadi Sasaran Tembak, 20 Pengunjung Dinyatakan Tewas

Tersangka penembakan massal tersebut secara resmi diidentikasi sebagai lelaki kulit putih berusia 21 tahun dari Allen, Texas, pinggiran kota Dallas sekitar 1.046 km di sebelah timur El Paso, yang terletak di sepanjang Rio Grande, di seberang perbatasan AS-Meksiko dari Ciudad Juarez .

Mengutip pejabat penegak hukum, beberapa laporan media menyebut tersangka sebagai Patrick Crusius.

CNN melaporkan bahwa FBI telah melakukan penyelidikan teror domestik terkait penembakan massal itu.

El Paso dan Ciudad Juarez, bersama dengan kota tetangganya, Las Cruces, New Mexico, membentuk wilayah perbatasan metropolitan dengan populasi sekitar 2,5 juta orang yang merupakan salah satu kawasan bilingual terbesar di wilayah barat.

Penembakan massal sering terjadi di Amerika Serikat. Pada pekan lalu, seorang remaja bersenjata menembaki pengunjung sebuah festival makanan di California Utara, menewaskan tiga orang sebelum menembak dirinya sendiri. (*)

Artikel ditulis Gusti Nur Cahya Aryani telah tayang di Antara.com

Editor: Rizki Laelani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved