Dharma Wacana

Ida Pandita: Pelaba Pura Seharusnya Tidak Diperebutkan

Saat ini kita sering dipertontonkan oleh perebutan pelaba (aset) pura. Apa yang terjadi ini tidak terlepas dari unsur materialisasi di wilayah

Ida Pandita: Pelaba Pura Seharusnya Tidak Diperebutkan
Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda saat dijumpai usai menjadi narasumber acara sosialisasi revolusi mental diMandala Mhantika Subak Sanggulan, Tabanan, Jumat (9/11/2018).   

 Oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda

TRIBUN-BALI.COM, -- Saat ini kita sering dipertontonkan oleh perebutan pelaba (aset) pura. Apa yang terjadi ini tidak terlepas dari unsur materialisasi di wilayah ketuhanan.

Ketika ada materialisasi, di situ pasti ada dua hal. Yakni, di satu sisi dia akan menjadi benda ilahi atau sakral; di sisi yang lain dia adalah suatu obyek komoditi.

Permasalahannya sekarang adalah terjadi degradasi dari cara pandang sakral menjadi ekonomis.

Antara desa dan pura yang di dalamnya ada pelaba pura, sebenarnya di situ ada suatu pemisahan. Desa adalah satu kesatuan yang memiliki wilayah, termasuk pura.

Dalam hal ini, ada suatu pemisahan, yaitu pura berada di tempat ini, dan pelabanya berada di tempat lain yang masih berada di wilayah desa adat tersebut.

Namun yang jelas, di manapun pelaba itu berada, dia tetaplah milik pura.

Permasalahan kerap muncul saat komunitas masyarakat yang berada di kawasan pelaba pura ini sudah tidak memiliki kesamaan dengan komunitas yang ada di wilayah pura. Apalagi jika pelaba tersebut memiliki nilai ekonomis.

Di sinilah terjadi perebutan, antara yang menghendaki pelaba ini milik si A atau si B.

Menyikapi hal ini, kita harus memahami bahwa semua yang ada di dunia ini adalah hak guna pakai, bukan sebagai kepemilikan.

Halaman
12
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved