Program One Day No Rice Belum Optimal, Bangli Masih Kurang 3.637 Ton Beras

Gerakan One Day No Rice lebih kepada salah-satu program penganekaragaman makanan, di mana dalam satu piring nasi bisa dicampur dengan ubi.

Program One Day No Rice Belum Optimal, Bangli Masih Kurang 3.637 Ton Beras
Tribun Bali/Fredey Mercury
Sejumlah penggarap sawah sedang bekerja di persawahan di wilayah Demulih, Bangli, Rabu (31/7/2019). Bangli masih kekurangan beras hingga 3.637 ton per tahun. 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Empat bulan berjalan, implementasi gerakan One Day No Rice (ODNR) masih belum maksimal. Padahal gerakan ini merupakan salah-satu upaya untuk menekan konsumsi beras masyarakat di Bangli.

Hal ini dibenarkan oleh pelaksana tugas (plt) Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (PKP), I Wayan Sarma, Minggu (4/8/2019).

Dikatakannya, upaya untuk menggalakkan gerakan ODNR ini sudah ada sejak tahun 2010 silam.

“Masyarakat yang melakukan gerakan ini masih kecil. Berdasarkan persentasenya masih di bawah 13 persen,” katanya.

Gerakan ODNR bukanlah satu hari tanpa nasi. Sarma menjelaskan gerakan ini lebih kepada salah-satu program penganekaragaman makanan, di mana dalam satu piring nasi bisa dicampur dengan ubi.

Sebab menurutnya apabila terlalu banyak mengonsumsi nasi, dari aspek kesehatan juga tidak baik.

“Untuk saat ini khususnya di Dinas PKP, gerakan ini sudah berjalan dengan konsisten. Sedangkan di OPD lainnya, informasi dari penyuluh memang telah diterapkan. Namun apakah sudah konsisten atau belum, kami masih perlu memastikan lagi,” ucapnya.

Kendala dalam implementasi gerakan ini, menurut Sarma hanya dari segi teknis. Seseorang merasa lebih praktis untuk menanak nasi, dibandingkan dengan campuran ubi.

Sementara dari sisi tingkat konsumsi beras per kapita di Bangli, Sarma mengakui masih tinggi. Hanya saja dibandingkan dengan tahun 2013, jumlahnya cenderung mengalami penurunan.

Disebutkan, pada tahun 2013, konsumsi beras per kapita mencapai 113 kilogram per tahun. Sedangkan pada tahun 2019, konsumsi beras menjadi 98 kilogram pertahun.

“Berdasarkan angka tersebut, sudah ada kemajuan pada penganekaragaman pangan. Walaupun konsumsi beras per kapita di Bangli masih tergolong tinggi sebab konsumsi beras per kapita berdasarkan standar nasional hanya 86 kilo per tahun,” ujarnya.

Sementara dari segi produksi beras, Sarma mengaku hingga kini Bangli tergolong belum mencukupi sebab jumlah produksi beras pertahun hanya mencapai 18.474,52 ton, sedangkan kebutuhan konsumsi mencapai 22.167,6 ton.

“Artinya Bangli masih minus beras sebanyak 3.637 ton per tahun. Sebab itu diperlukan gerakan penganekaragaman pangan ini untuk mengurangi impor beras. Karena di satu sisi, kita masih punya potensi non beras seperti ketela dan jagung. Ini yang bisa dijadikan alternatif untuk ketahanan pangan selain beras,” tandasnya. (*)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved