Liputan Khusus

Soal Pembentukan Pecalang Istri, Made Mudra: Sulit Diseragamkan di Seluruh Bali

Manggala Agung Pasikian Pecalang Bali, Made Mudra, tidak mendukung dan juga tak melarang adanya pembentukan pecalang perempuan.

Soal Pembentukan Pecalang Istri, Made Mudra: Sulit Diseragamkan di Seluruh Bali
Tribun Bali/Putu Supartika
Manggala Agung Pasikian Pecalang Bali, I Made Mudra.  

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR -- Manggala Agung Pasikian Pecalang Bali, Made Mudra, tidak mendukung dan juga tak melarang adanya pembentukan pecalang perempuan.

Made Mudra berpendapat, pembentukan pecalang perempuan sulit diseragamkan.

Alasannya, perempuan memiliki hari-hari tertentu yang tidak memungkinkan mereka untuk masuk ke areal pura.

"Saya tidak melarang dan juga tidak mendukung. Kan katanya kita melarang wanita yang sedang datang bulan ke pura. Nah ini bagaimana cara menyikapinya. Saya rasa sulit untuk diseragamkan," kata Mudra saat diwawancara Tribun Bali via telepon, Minggu (4/8).

Pecalang, menurut Mudra, tak bisa disamakan dengan polisi wanita (polwan) di Polri atau wanita TNI.

Sebab, mereka bertugas di ranah umum alias tidak terikat oleh hal-hal yang berbau kepercayaan keagamaan.

Sedangkan pecalang, kata dia, adalah mereka yang kerap bertugas saat upacara keagamaan dan adat di Bali yang masing-masing memiliki kearifan lokal tersendiri.

"Itu sebabnya saya pesimistis kalau itu bisa diseragamkan di seluruh Bali. Tapi, kalau memang ada dasarnya kenapa harus dibentuk pecalang putri di Pura Batukau, ya kami tidak bisa melarang juga," jelas Mudra.

Mengenai tata-cara berpakaian krama istri ke pura yang mulai melenceng dari pakem, Mudra sepakat akan hal itu.

Sebab, tata-cara berpakaian adat ke pura umat Hindu di Bali memang memiliki makna-maknanya alias tidak sembarangan.

"Ya misalnya kalau pembentukna pecalang perempuan untuk mengingatkan itu, ya saya pribadi sepakat. Karena cara berpakaian adat itu sudah ada ketentuannya. Misalnya warna ada maknanya. Juga kamen itu, untuk istri kan ditutup masuk kiri, ditutupnya ke kanan. Ada maknanya. terus yang lanang kancutnya ke bawah," papar Mudra.

Ihwal pembentukan pecalang perempuan ini, kata Made Mudra,  juga bakal dibahas di sela-sela pemilihan bendesa agung tanggal 6 Agustus nanti di Pura Samuan Tiga, Gianyar.

Nantinya, seluruh pihak yang dilibatkan dalam acara tersebut bakal diajak bermusyawarah bagaimana sebaiknya menyikapi pecalang perempuan ini.(*) 

       

Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved