Kementerian PPPA RI Beri Edukasi Peran Orang Tua Cetak Generasi Melek Bahasa Asing

Universitas Pendidikan Ganesha menggelar The 2nd Global Conference on Teaching Assesment and Learning in Education

Kementerian PPPA RI Beri Edukasi Peran Orang Tua Cetak Generasi Melek Bahasa Asing
Dok KPPPA
Menteri PPPA Yohana Yembise bersama Rektor Undiksha, Prof. Dr. I Nyoman Jampel, M.Pd 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Universitas Pendidikan Ganesha menggelar The 2nd Global Conference on Teaching Assesment and Learning in Education bertempat di Auditoriun Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali, Senin (5/8/2019).

Dalam konferensi ini, mengundang Kementerian Perlindungan Perempuan dan perlindungan Anak (KPPPA) Republik Indonesia yang membahas tentang Peran Orang Tua Cetak Generasi Melek Bahasa Asing.

Di era globalisasi ini, kompetensi global yang meliputi melek teknologi informasi, matematika, sains, dan bahasa internasional semakin dibutuhkan.

Berdasarkan hasil Program for International Student Assessment (PISA) 2015, dari 72 negara, Indonesia berada di peringkat 64 di bidang Matematika, 65 di bidang Sains, dan 66 pada membaca (OECD, 2016).

PISA utamanya menguji keterampilan melek huruf generasi muda di seluruh dunia untuk melihat seberapa siap mereka menghadapi situasi kehidupan di masa depan.

Dalam hal ini, orang tua memainkan peran penting dalam menanamkan literasi bahasa asing dan ilmu lainnya bagi anak - anak.

Tidak bisa kita pungkiri, salah satu kompetensi untuk menjangkau era globalisasi adalah Bahasa Inggris.

Namun, sebagai bahasa asing, literasi Bahasa Inggris memerlukan pendekatan khusus yang melibatkan orang tua untuk membantu, memotivasi, dan memfasilitasi anak-anak untuk mengoptimalkan keterampilan literasi Bahasa Inggris mereka.

“Sebagai bahasa asing, literasi Bahasa Inggris memerlukan keterlibatan orang tua dalam proses pengenalan dan pengembangan kepada anak – anaknya. Ada 4 alasan mengapa keterlibatan orang tua sangat penting bagi pembelajaran Bahasa Inggris," ujar Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise.

Lebih lanjut, pihaknya menjelaskan alasan pertama yakni keputusan untuk memasukkan bahasa asing ke dalam kurikulum sekolah berasal dari kebutuhan nyata orang tua dan masyarakat.

Halaman
123
Penulis: Noviana Windri
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved