Sebut Penguasaan Critical Skill Masih Kurang, Menteri PPPA Kampanyekan Gerakan Literasi di Undiksha

Menteri PPPA RI, Yohana Yembise menyebutkan skor critical skill pelajar dan mahasiswa di Indonesia masih tergolong rendah.

Sebut Penguasaan Critical Skill Masih Kurang, Menteri PPPA Kampanyekan Gerakan Literasi di Undiksha
pexel.com
Ilustrasi critical skill. 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, Yohana Yembise menyebutkan skor critical skill pelajar dan mahasiswa di Indonesia masih tergolong rendah.

Peserta didik rata-rata hanya mampu membaca, menghitung, lalu menjawab pertanyaan dengan metode menghafal.

Hal ini diungkapkan oleh Yohana saat memberi kuliah umum Konfrensi Internasional GC TALE dan Women in TESOL (WIT) di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Senin (5/8/2019).

Menteri PPPA RI, Yohana Yembise seusai memberikan kuliah umum di Undiksha, Senin (5/8/2019)
Menteri PPPA RI, Yohana Yembise seusai memberikan kuliah umum di Undiksha, Senin (5/8/2019) (Tribun Bali/Ratu Ayu)

Selama ini sebut Yohana, pendidikan di Indonesia sudah cukup maju, berdasarkan hasil PISA Tes. Pun banyak peserta didik di tanah air yang mampu menjadi juara dalam kompetisi ilmu pengetahuan hingga ditingkat internasional.

Namun keberhasilan itu masih dinilai kurang, karena para peserta didik masih belum mampu untuk menganalisis sebuah bacaan.

"Kalau soal pertanyaan sebutkan, mereka sangat hafal. Namun untuk menjawab pertanyaan why (mengapa,red), anak-anak kita itu masih sangat kurang. Penguasaan critical skillnya masih kurang," ungkapnya. 

Untuk itu, Yohana berharap agar para pelajar maupun mahasiswa harus memiliki kemampuan menganalisis, kemudian membuat hipotesa dengan pemikiran cerdas.

Pun ia juga mengimbau untuk para pendidik agar meningkatkan critical skill para siswanya melalui pekerjaan rumah (PR). Hal ini dapat dilakukan dengan menggalakan gerakan literasi di semua lini pendidikan.

"Anak-anak mengerjakan PR hanya mengunduhnya menggunakan HP. Critical skill mereka jadi kurang berkembang. Mereka hanya bisa menyontek pikiran orang lain. Pola pendidikan dengan mengunduh dalam HP harus dikurangi," katanya. 

Sementara Rektor Undiksha, I Nyoman Jampel menyebutkan, cara pengajaran dijalankan berdasarkan regulasi yang diatur dalam sistem kurikulum. Hanya saja proses pendidikan memang masih dalam tahap pemahaman, mengetahui, dan menerapkan.

"Kami berharap apa yang menjadi penakan ibu menteri bisa ditindaklanjuti. Dan kami lembaga pelaksana pendidikan tinggal mengikuti regulasi kebijakan Kemenristekdikti," tutupnya. (*)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved