Media Sosial dan Anak-anak Remaja yang Alami Gangguan Kecemasan

Perasaan cemas, gelisah, dan panik, tersebut bisa memicu masalah mental seperti depresi, penggunaan narkoba dan alkohol, bahkan bunuh diri

Media Sosial dan Anak-anak Remaja yang Alami Gangguan Kecemasan
pixabay.com
Ilustrasi - Media sosial bisa memicu kecemasan yang berlebihan. 

TRIBUN-BALI.COM - Angka remaja yang mengalami kecemasan (anxiety) terus meningkat.

Menurut data National Institute of Health Amerika Serikat, sekitar 20 persen remaja berusia 13-18 tahun mengalami gangguan cemas.

Kecemasan dan kegelisahan sebenarnya merupakan emosi yang wajar dialami.

Namun, jika kondisi itu bisa disebut tidak normal jika sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Gangguan kecemasan ditandai dengan rasa khawatir dan takut berlebihan sehingga seseorang sulit berkonsentrasi, susah tidur, hingga merasakan gejala fisik seperti mual atau gemetaran.

Gangguan tersebut memang lebih banyak dialami orang dewasa karena kompleksitas masalah hidup yang dihadapinya.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan gangguan cemas itu dialami anak remaja.

Selain faktor genetik, zat kimia di otak, kepribadian, dan kejadian besar dalam hidup, setidaknya faktor ini juga berpengaruh:

- Tuntutan sukses
Tekanan dan harapan yang tinggi untuk mencapai kesuksesan dari lingkungan ternyata membuat banyak remaja merasa cemas.

Menurut sebuah penelitian pada mahasiswa baru terungkap, mayoritas merasa kewalahan dengan banyaknya daftar yang harus mereka lakukan untuk mencapai sukses.

Halaman
123
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved