Pengelolaan Air Tanah yang Baik dan Tepat Mendukung Pariwisata Berkelanjutan

Talkshow tentang air tanah dengan tema penyelamatan air tanah dalam mendukung pengembangan pariwisata yang berkelanjutan

Pengelolaan Air Tanah yang Baik dan Tepat Mendukung Pariwisata Berkelanjutan
Tribun Bali/Meika Pestaria Tumanggor
Talk show¬†penyelamatan air tanah dalam mendukung pengembangan pariwisata yang berkelanjutan di Bintang Bali Resort, Jalan Kartika Plaza, Kuta Bali, Rabu (7/8/2019). Pengelolaan Air Tanah yang Baik dan Tepat Mendukung Pariwisata Berkelanjutan 

Dilihat dari sisi CAT, daerah di Bali yang paling berkembang kondisi pariwisatanya berada pada CAT Denpasar-Tabanan.

Andiani mengatakan untuk mengetahui tingkat kerusakan air tanah pada suatu CAT, dilakukan pemetaan zonasi konservasi air tanah.

"Badan Geologi, Kementerian ESDM telah melakukan pemetaan konservasi air tanah di CAT Denpasar-Tabanan, dan ditemukan adanya zona rawan. Zona rawan merupakan zona yang menunjukkan terjadinya penurunan muka air tanah 40-60%, atau terjadinya intrusi air laut akibat pengambilan air tanah, yang ditandai dengan kenaikan nilai daya hantar listrik sampai dengan 1.000-10.000 mg/liter," jelas Andiani.

"Untuk CAT Denpasar-Tabanan, zona rawan diindikasikan oleh penurunan muka air tanah (belum ada indikasi intrusi air laut), yaitu di daerah Sumerta Kaja (Denpasar), dan Sading (Badung). Pada tahun 2014, survei oleh Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali menunjukkan meluasnya zona rawan air tanah, berupa penurunan muka air tanah meliputi Semarapura, Sumerta Kaja (Denpasar), Sading (Badung), Sudimara dan Tabanan; serta terjadinya intrusi air laut di Nusa Dua dan daerah pantai barat (sepanjang Pantai Kuta)," tambah Andiani. 

Buka Posko Siaga Bencana, Polres Tabanan Sediakan 6 Ton Air Bersih untuk Warga yang Memerlukan

School Lunch Program, Penelitian Ajinomoto & IPB Demi Perbaiki Status Gizi Kesehatan Anak Sekolah

Faktor penyebab meluasnya zona rawan air tanah adalah semakin meningkatnya pengambilan air tanah dalam jumlah yang tidak seimbang bila dibandingkan dengan jumlah pengimbuhan air tanah.

"Di sisi lain, suplai air bersih dari PDAM belum dapat mencukupi kebutuhan air bersih baik bagi penduduk, maupun bagi sektor pariwisata. Sehingga bagi sektor pariwisata, terjadi ketergantungan pemenuhan air bersih dari air tanah. Untuk itu, perlu dilakukan evaluasi terhadap pengelolaan air tanah yang telah dilaksanakan," ungkap Andiani. 

Pengelolaan air tanah dilakukan berdasarkan konsep one basin one management, yaitu pengelolaan air tanah di setiap cekungan air tanah (CAT), dengan mengutamakan batas CAT dan bukan mengutamakan batas administrasi daerah.

Sehingga dalam pengelolaannya, para pemangku kepentingan diharapkan dapat bekerjasama dengan baik agar air tanah tetap terjaga kelestariannya. 

Andiani berharap talkshow ini dapat dijadikan sebagai sarana berbagi pengalaman pengelolaan sumber daya air, terutama air tanah, khususnya yang berkaitan dengan kegiatan pariwisata dalam rangka menjaga kelestarian air tanah dan keberlanjutan penyagunaan air tanah, termasuk pada sektor pariwisata.

Kegiatan ini diikuti 150 orang, yang terdiri dari perwakilan Dinas ESDM Provinsi se-Indonesia, para pemangku kepentingan di bidang pengelolaan air tanah di Bali (Dinas Kabupaten/Kota yang terkait dengan air tanah), pengguna air tanah, para pengusaha di bidang pariwisata, LSM, para akademisi serta mahasiswa di Bali.

(*)

Penulis: Meika Pestaria Tumanggor
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved