Petani Cabai I Made Suendi Bersyukur, Panen di Saat Harga Melambung Tinggi

Kini cabai yang ditanamnya itu sudah siap panen saat harga cabai melambung tinggi.

Petani Cabai I Made Suendi Bersyukur, Panen di Saat Harga Melambung Tinggi
Tribun Bali/I Komang Agus Aryanta
Petani Cabai I Made Suendi saat melihatkan kebun cabai miliknya di Desa Sangeh, Abiansemal, Badung, Jumat (9/8/2019) 

Lonjakan harga cabai pun menurutnya kini lumayan fantastis hingga mencapai 50 persen.

Biasanya ia menjual cabai dengan harga Rp 20 ribu per kilogram.

Namun kini ia bisa menjual hasil panennya dengan harga Rp 40 per kilogram.

“Peningkatan harga ini terjadi dari menjelang Galungan kemarin. Usai kuningan harga cabai kembali turun namun tidak tinggi, hanya Rp 10 ribu per kilogramnya. Jadi  saya menjual dengan harga Rp30 ribu perkilo,” paparnya sembari mengatakan kalau harga normal biasanya saya jual Rp 20 ribu per kilogram.

Pihaknya pun mengaku, hasil panennya tersebut dijual ke pengepul yang biasa menjual cabai di Pasar Mengwi.

Dengan harga yang meningkat, pihaknya pun terpaksa harus memberikan obat cabainya untuk bisa panen lebih awal.

“Dengan luas lahan 40 are ini saya panen cabai bisa tiga kali sehari. Cabai pun saya beri obat agar cepat bisa panen disaat harga tinggi,” katanya.

Disinggung mengenai apakah tidak bahaya mengunakan obat mempercepat panen tersebut, pria yang sudah 15 tahun menjadi petani cabai itu mengatakan tidak menjadi masalah.

Yang jelas menurutnya penyemprotan obat tersebut diatur dan sesuai takaran.

“Biasanya peningkatan harga cabai itu terjadi hanya satu minggu. Jadi kalau harga tinggi kita semprot cabai yang sudah tua namun masih hijau. Setelah disemprot tiga harinya akan menjadi merah dan siap panen,” ungkapnya.

Halaman
123
Penulis: I Komang Agus Aryanta
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved