Tanah Sengketa Belum Dikosongkan Hingga Batas Akhir, Krama Pakudui Kangin Mengaku Masih Bingung

Krama Pakudui Kangin mengaku masih belum paham obyek mana saja yang harus diserahkan ke pihak Desa Pakraman Pakudui

Tanah Sengketa Belum Dikosongkan Hingga Batas Akhir, Krama Pakudui Kangin Mengaku Masih Bingung
Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
Krama Pakudui Kangin, Desa Kedisan, Tegalalang, Gianyar, membawa pratima yang disakralkan ke Pengadilan Negeri Gianyar, Kamis (1/8/2019), saat sidang sengketa lahan pura. 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR –  Jumat (9/8/2019) merupakan batas akhir krama Pakudui Tempek Kangin, Desa Kedisan, Tegalalang mengosongkan bangunan di atas sengketa pelaba Pura Puseh yang dimenangkan Desa Pakraman Pakudui.

Hanya saja hingga waktu yang ditentukan, lahan sengketa itu belum juga dikosongkan.

Krama Pakudui Kangin mengaku masih belum paham obyek mana saja yang harus diserahkan ke pihak Desa Pakraman Pakudui.

Penyarikan Pura Puseh Pakudui Kangin, I Wayan Subawa saat ditemui di rumahnya, Jumat (9/8/2019), mengatakan hingga saat ini pihaknya (Pakudui Tempek Kangin), belum melakukan pengosongan lahan sengketa.

Namun ia menegaskan, hal itu bukan sebagai bentuk penentangan terhadap Putusan Pengadilan Negeri Gianyar.

“Tak ada pengosongan. Kami masih bingung karena obyek yang kami harus serahkan, kami belum paham sebab ada perbedaan. Kami masih menunggu pihak-pihak terkait untuk meng-clear- kan hal ini. Kami belum melakukan pengosongan bukan bertujuan melawan hukum,” ujarnya.

Kata Subawa, dalam proses hukum yang berjalan, apabila pihaknya melakukan pengosongan, di sana ada Pura Dukuh dan perantenan (dapur pura).

Jika itu diserahkan, kata dia, sebagai umat Hindu, pihaknya tidak akan bisa melangsungkan piodalan dan tak memiliki tempat untuk membuat sarana upakara piodalan.

Saat Tribun Bali mengatakan bahwa PN Gianyar tidak mengeksekusi pura karena berdasarkan pemeriksaan gambar dan sempat dilakukan constatering, tidak ada pura yang berdiri di atas tanah sengketa.

Namun Subawa justru balik bertanya, “apa hukum bisa dibelokkan seperti itu? Gambar letak tanah (yang sekarang menjadi obyek sengketa) yang saya dapat dari penglingsir saya memang seperti itu (di atasnya ada pura). Juga ada berdiri Pura Prajapati. Kalau lurus, lalu dibengkokin untuk menghindari pura,  kan hukum itu bagaimana? Saya gak ngerti,” ujarnya.

Halaman
12
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved